Harga Bitcoin kembali menjadi perhatian pasar kripto pada Jumat, 11 September 2026. Setelah sempat menembus level US$80.000, Bitcoin kembali bergerak di bawah level tersebut.
Pada 10 September, Bitcoin dilaporkan berada di sekitar US$77.323 setelah turun 1,22 persen. Penurunan terjadi ketika pasar merespons data inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan.
Meski mengalami tekanan dalam jangka pendek, ada sinyal teknikal yang membuat pasar kembali memperhatikan Bitcoin.
Sinyal tersebut adalah golden cross.
Golden Cross Bitcoin Jadi Perhatian
Golden cross terjadi ketika rata-rata pergerakan harga jangka lebih pendek menembus rata-rata jangka panjang dari bawah ke atas.
Dalam kasus Bitcoin, rata-rata pergerakan 50 hari mendekati rata-rata 200 hari.
Sejumlah analis melihat kondisi ini sebagai sinyal positif karena golden cross sering digunakan untuk melihat kemungkinan perubahan tren jangka menengah hingga panjang.
Business Insider melaporkan Bitcoin baru membentuk golden cross pertama sejak Mei 2025. Harga Bitcoin juga telah meningkat sekitar 34 persen sejak Juli.
Namun, golden cross bukan jaminan bahwa harga Bitcoin akan terus naik.
Pasar tetap dapat berubah karena faktor ekonomi global.
Bitcoin Gagal Bertahan di Atas US$80.000
Level US$80.000 menjadi salah satu perhatian utama trader.
Bitcoin sempat bergerak melewati level tersebut sebelum kembali mengalami tekanan. Kondisi ini menunjukkan bahwa masih ada aksi jual ketika harga mendekati area tersebut.
Sejumlah analis juga memperhatikan level US$83.000 hingga US$84.000 dan US$90.000 sebagai area berikutnya jika Bitcoin mampu melanjutkan kenaikan.
Namun, Bitcoin masih menghadapi tantangan dari sisi ekonomi makro.
Pasar global saat ini menunggu data CPI Amerika Serikat. Data tersebut dapat memengaruhi ekspektasi mengenai keputusan suku bunga The Fed.
CPI AS Bisa Memengaruhi Kripto
Bitcoin dan aset kripto lainnya sangat sensitif terhadap perubahan sentimen pasar.
Jika inflasi Amerika Serikat kembali tinggi, pasar dapat memperkirakan kebijakan suku bunga yang lebih ketat. Kondisi tersebut berpotensi menekan aset berisiko seperti Bitcoin.
Sebaliknya, jika inflasi lebih rendah dari perkiraan, sentimen terhadap aset berisiko dapat membaik.
CPI menjadi semakin penting karena pasar juga sedang memperhatikan keputusan The Fed pada September.
Dengan demikian, pergerakan Bitcoin dalam beberapa hari ke depan kemungkinan tidak hanya ditentukan oleh grafik teknikal.
Data ekonomi dan arah kebijakan moneter juga akan memainkan peran besar.
Apakah Bitcoin Bisa Kembali ke US$80.000?
Peluang Bitcoin untuk kembali menguji US$80.000 masih terbuka, tetapi belum bisa dianggap sebagai kepastian.
Golden cross memberikan sinyal positif dari sisi teknikal. Namun, Bitcoin tetap harus menghadapi tekanan dari kondisi makroekonomi.
Jika mampu kembali menembus US$80.000 dan bertahan di atas level tersebut, perhatian pasar dapat bergeser ke area yang lebih tinggi.
Sebaliknya, jika tekanan jual semakin besar, Bitcoin bisa kembali menguji area harga yang lebih rendah.
Karena itu, investor perlu melihat pergerakan harga bersama dengan volume, sentimen pasar dan perkembangan ekonomi Amerika Serikat.
Untuk saat ini, US$80.000 menjadi salah satu level penting yang masih diperhatikan pasar Bitcoin. (Red)







