Pemerintah Provinsi NTB juga menempatkan kebutuhan dasar warga sebagai prioritas selama masa tanggap darurat. Selain pangan dan sandang, pemerintah memperhatikan rasa aman serta keberlangsungan pendidikan anak-anak yang terdampak.
Bagi masyarakat Sade, persoalan yang muncul setelah kebakaran tidak berhenti pada kerusakan fisik bangunan. Kampung tersebut merupakan ruang kehidupan masyarakat Sasak yang selama bertahun-tahun mempertahankan tradisi dan nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sade dikenal melalui arsitektur rumah tradisional, kerajinan, tata kehidupan, serta berbagai tradisi masyarakat Sasak. Karakter tersebut kemudian membuat Kampung Adat Sade menjadi salah satu ikon wisata budaya di Nusa Tenggara Barat dan Indonesia.
Kondisi tersebut membuat proses pemulihan harus dilakukan dengan mempertimbangkan lebih dari sekadar pembangunan kembali rumah yang rusak. Pemerintah perlu memastikan masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan dengan tetap mempertahankan karakter budaya yang selama ini melekat pada kawasan tersebut.
Menteri Widiyanti mengatakan Sade tidak dapat dipandang hanya sebagai kawasan wisata. Menurutnya, masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut merupakan bagian utama dari kehidupan dan keberlanjutan budaya Sasak.
“Sade bukan sekadar destinasi wisata. Sade adalah rumah masyarakat, ruang hidup budaya Sasak, sekaligus bagian penting dari kekayaan pariwisata Indonesia. Karena itu, duka masyarakat Sade juga menjadi duka kita bersama,” ujar Menpar.
Setelah masa tanggap darurat berakhir, pemerintah pusat dan pemerintah daerah akan berkoordinasi untuk menentukan langkah pemulihan. Kementerian Pariwisata menyatakan siap terlibat bersama kementerian dan lembaga terkait untuk mendukung pemulihan sektor pariwisata di Kampung Adat Sade.
Pembangunan kembali kawasan tersebut akan menghadapi tantangan tersendiri. Rekonstruksi harus memperhatikan kebutuhan masyarakat sekaligus mempertahankan nilai budaya, kearifan lokal, dan autentisitas arsitektur tradisional Sasak.
Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat adat Desa Sade akan bersama-sama memastikan kawasan tersebut dapat dibangun kembali setelah penanganan darurat selesai. Proses tersebut diharapkan dapat mengembalikan kehidupan masyarakat tanpa menghilangkan identitas budaya yang menjadi ciri khas Sade.
“Prioritas kita sekarang adalah masyarakat. Setelah kondisi darurat tertangani, kita akan bersama-sama memikirkan pemulihannya. Kita ingin Sade bangkit kembali tanpa kehilangan jati dirinya sebagai ruang hidup dan warisan budaya masyarakat Sasak,” kata Widiyanti. ***





