Kebakaran yang melanda Kampung Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, tidak hanya meninggalkan kerusakan pada rumah warga, tetapi juga menjadi tantangan bagi keberlangsungan salah satu ruang hidup budaya Sasak. Pemerintah kini memprioritaskan keselamatan dan kebutuhan dasar masyarakat sebelum menyiapkan proses pemulihan serta pembangunan kembali kawasan adat tersebut.
Musibah kebakaran yang terjadi di Kampung Adat Sade membuat sejumlah rumah warga terdampak. Berdasarkan pendataan sementara, kerusakan masih terus dihimpun oleh pemerintah daerah untuk mendapatkan gambaran menyeluruh mengenai dampak yang ditimbulkan.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Meski demikian, warga harus menghadapi kehilangan tempat tinggal dan kerusakan lingkungan permukiman yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sasak.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, keselamatan warga menjadi perhatian utama pemerintah setelah kebakaran terjadi. Pemerintah bersama pemerintah daerah dan berbagai unsur terkait terus melakukan penanganan agar masyarakat terdampak dapat segera memperoleh kebutuhan dasar.
“Kami menyampaikan keprihatinan yang mendalam kepada seluruh masyarakat Kampung Adat Sade yang terdampak. Yang paling penting saat ini adalah memastikan warga dalam kondisi aman dan kebutuhan dasar masyarakat dapat segera terpenuhi,” kata Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dalam siaran pers kemenpar.
Sejak awal kejadian, Kementerian Pariwisata melakukan koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat, Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, serta pemangku kepentingan lainnya. Koordinasi tersebut dilakukan untuk memantau perkembangan penanganan sekaligus mengidentifikasi bantuan yang dapat diberikan sesuai kebutuhan masyarakat di lokasi.
Kementerian Pariwisata juga melibatkan Politeknik Pariwisata Lombok dalam penanganan dampak kebakaran. Menteri Widiyanti meminta institusi tersebut bersiap membuka dapur umum untuk membantu kebutuhan konsumsi masyarakat yang terdampak.
“Saya sudah meminta Poltekpar Lombok untuk bergerak dan memberikan dukungan yang dibutuhkan masyarakat, termasuk menyiapkan dapur umum. Pelaksanaannya akan dilakukan secara terkoordinasi dan saat ini kami menunggu arahan Forkopimda Kabupaten Lombok Tengah agar bantuan dapat diberikan secara tepat sasaran dan tidak tumpang tindih dengan penanganan yang sudah berjalan,” ujar Widiyanti.
Penanganan di lapangan juga melibatkan pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, pemadam kebakaran, dan sejumlah unsur lainnya. Evakuasi warga, pemadaman api, penyediaan tempat sementara, hingga pembersihan material pascakebakaran dilakukan secara bersama-sama.
Pemerintah Provinsi NTB juga menempatkan kebutuhan dasar warga sebagai prioritas selama masa tanggap darurat. Selain pangan dan sandang, pemerintah memperhatikan rasa aman serta keberlangsungan pendidikan anak-anak yang terdampak.
Bagi masyarakat Sade, persoalan yang muncul setelah kebakaran tidak berhenti pada kerusakan fisik bangunan. Kampung tersebut merupakan ruang kehidupan masyarakat Sasak yang selama bertahun-tahun mempertahankan tradisi dan nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sade dikenal melalui arsitektur rumah tradisional, kerajinan, tata kehidupan, serta berbagai tradisi masyarakat Sasak. Karakter tersebut kemudian membuat Kampung Adat Sade menjadi salah satu ikon wisata budaya di Nusa Tenggara Barat dan Indonesia.
Kondisi tersebut membuat proses pemulihan harus dilakukan dengan mempertimbangkan lebih dari sekadar pembangunan kembali rumah yang rusak. Pemerintah perlu memastikan masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan dengan tetap mempertahankan karakter budaya yang selama ini melekat pada kawasan tersebut.
Menteri Widiyanti mengatakan Sade tidak dapat dipandang hanya sebagai kawasan wisata. Menurutnya, masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut merupakan bagian utama dari kehidupan dan keberlanjutan budaya Sasak.
“Sade bukan sekadar destinasi wisata. Sade adalah rumah masyarakat, ruang hidup budaya Sasak, sekaligus bagian penting dari kekayaan pariwisata Indonesia. Karena itu, duka masyarakat Sade juga menjadi duka kita bersama,” ujar Menpar.
Setelah masa tanggap darurat berakhir, pemerintah pusat dan pemerintah daerah akan berkoordinasi untuk menentukan langkah pemulihan. Kementerian Pariwisata menyatakan siap terlibat bersama kementerian dan lembaga terkait untuk mendukung pemulihan sektor pariwisata di Kampung Adat Sade.
Pembangunan kembali kawasan tersebut akan menghadapi tantangan tersendiri. Rekonstruksi harus memperhatikan kebutuhan masyarakat sekaligus mempertahankan nilai budaya, kearifan lokal, dan autentisitas arsitektur tradisional Sasak.
Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat adat Desa Sade akan bersama-sama memastikan kawasan tersebut dapat dibangun kembali setelah penanganan darurat selesai. Proses tersebut diharapkan dapat mengembalikan kehidupan masyarakat tanpa menghilangkan identitas budaya yang menjadi ciri khas Sade.
“Prioritas kita sekarang adalah masyarakat. Setelah kondisi darurat tertangani, kita akan bersama-sama memikirkan pemulihannya. Kita ingin Sade bangkit kembali tanpa kehilangan jati dirinya sebagai ruang hidup dan warisan budaya masyarakat Sasak,” kata Widiyanti. ***



