Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan wilayah busur belakang Flores memang memiliki sejarah aktivitas gempa besar.
“Di busur belakang Flores ini terdapat potensi gempa maksimum M7.8 hingga M7.9,” ujar Wijayanto.
Ia juga mengingatkan bahwa wilayah tersebut pernah mengalami gempa besar pada 1992. Gempa berkekuatan M7,5 saat itu menyebabkan kerusakan dan tsunami.
Namun, masyarakat tidak perlu panik menghadapi informasi mengenai gempa susulan. BMKG meminta warga tetap tenang, tidak mempercayai informasi yang belum jelas sumbernya, dan mengikuti perkembangan melalui kanal resmi.
Selain persoalan tsunami, gempa Flores M7,7 juga menimbulkan kerusakan di sejumlah wilayah. BMKG melaporkan beberapa bagian tembok rumah sederhana roboh di Maumere, Manggarai Barat, dan Labuan Bajo.
Kerusakan juga dilaporkan terjadi pada fasilitas Pelabuhan Maumere dan bangunan Hotel Jayakarta Bajo. Tim BMKG kemudian diterjunkan ke lokasi untuk melakukan survei kerusakan secara langsung.
BNPB juga bergerak melakukan penanganan darurat. Tim dikerahkan untuk melakukan pendataan korban, memeriksa kerusakan, membantu pemerintah daerah, serta menyiapkan kebutuhan masyarakat yang terdampak.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto bersama Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno dijadwalkan menuju wilayah terdampak di Kabupaten Nagekeo.
BNPB turut menyiapkan satu unit helikopter untuk membantu distribusi logistik dan mendukung kebutuhan penanganan darurat. Langkah tersebut diperlukan karena kondisi geografis NTT terdiri atas banyak wilayah kepulauan dengan akses antardaerah yang tidak selalu mudah.
Data BNPB yang telah diperbarui hingga pukul 08.00 WIB mencatat satu orang meninggal dunia dan empat orang mengalami luka-luka. Korban meninggal merupakan warga Kabupaten Sikka, sementara korban luka berada di Kabupaten Sikka dan Nagekeo.
Jumlah korban tersebut berbeda dengan laporan awal BNPB yang sempat menyebut dua orang meninggal dunia. Setelah dilakukan pengecekan dan validasi di lapangan, jumlah tersebut diperbarui menjadi satu orang meninggal dunia.
BNPB menyatakan proses pendataan masih berjalan. Karena itu, jumlah korban maupun kerusakan masih dapat berubah setelah petugas menyelesaikan verifikasi di lapangan.
Selain korban dan kerusakan bangunan, sekitar 2.000 warga di Kabupaten Nagekeo dilaporkan melakukan evakuasi mandiri. Mereka meninggalkan rumah setelah merasakan gempa dan menerima informasi mengenai potensi tsunami.









