Kelompok BUMTREN KOPONTREN Al-Hikmah menemui Gubernur Sulawesi Tengah untuk mengajukan proposal bantuan sarana dan prasarana Kampung Nelayan Merah Putih serta pengembangan budidaya ikan kerapu cantang sistem karamba di pesisir Teluk Tomini bagian utara, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, sebagai upaya mendorong ekonomi kerakyatan dan ketahanan pangan.

Kelompok BUMTREN KOPONTREN Al-Hikmah yang berada di bawah naungan Yayasan Al-Hikmah secara resmi mengajukan permohonan bantuan sarana dan prasarana kepada pemerintah pusat melalui Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Permohonan tersebut difokuskan pada pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih dan pengembangan budidaya ikan kerapu cantang dengan sistem karamba di wilayah pesisir utara Teluk Tomini, tepatnya di Desa Bumi Sama Bahari, Kecamatan Bolano, Kabupaten Parigi Moutong.

Ketua Kompontren Al-Hikmah sekaligus Pimpinan Yayasan, Ahmad Wargono, menjelaskan bahwa pengajuan proposal ini merupakan langkah konkret untuk mengembangkan usaha perikanan yang modern dan terpadu. Program tersebut diharapkan dapat menjadi komoditas unggulan penghasil devisa sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat pesisir di kawasan KUB IKPS Al-Hikmah Sama Bahari.

“Tujuan utama dari permohonan ini adalah untuk mendorong pengembangan perikanan modern yang terintegrasi, sekaligus sebagai wujud partisipasi kami dalam mengembangkan ekonomi kerakyatan, khususnya di wilayah pesisir Teluk Tomini bagian utara,” kata Ahmad Wargono didampingi Kades Bumi Sama Bahari, Moh. Malik usai bertemu Gubernur Anwar Hafid, Senin, 26 Januari, di masjid Kantor Gubernur Sulawesi Tengah.

Ia menjelaskan, kawasan Desa Bumi Sama Bahari memiliki potensi kelautan dan perikanan yang cukup besar, namun belum dikelola secara optimal dengan dukungan sarana dan prasarana yang memadai. Melalui konsep Kampung Nelayan Merah Putih yang dibarengi dengan pengembangan budidaya ikan kerapu cantang sistem karamba, potensi tersebut diharapkan mampu diolah secara berkelanjutan dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat setempat.

Ahmad Wargono menyampaikan bahwa tuntutan paling konkret yang dibawa dalam pertemuan dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, adalah realisasi permohonan bantuan sarana dan prasarana untuk mendukung ketahanan pangan. Dukungan tersebut tidak hanya menyasar sektor kelautan dan perikanan, tetapi juga pertanian dan peternakan sebagai satu kesatuan sistem ekonomi desa.

“Tuntutan paling konkret adalah realisasi permohonan sarana dan prasarana untuk mewujudkan Kampung Nelayan Merah Putih yang dibarengi dengan pengembangan budidaya ikan kerapu cantang sistem karamba, khususnya di Desa Sama Bahari,” ujar Ahmad.

Ia menambahkan, pengajuan proposal tersebut memiliki tenggat waktu yang jelas. Berdasarkan hasil pertemuan dan rekomendasi dari pemerintah daerah, permohonan ini akan dibawa langsung kepada Menteri Kelautan dan Perikanan di Jakarta. Targetnya, program tersebut dapat direalisasikan pada tahun 2026.

“Permohonan ini kami harapkan bisa disegerakan agar terwujud di tahun 2026. Rekomendasi dari pemerintah daerah sudah ada, sehingga tinggal mendorong percepatan di tingkat pusat,” katanya.

Menurut Ahmad, apabila program Kampung Nelayan Merah Putih dan budidaya kerapu cantang ini terealisasi, dampak yang paling dirasakan masyarakat adalah terbukanya lapangan kerja baru. Selain itu, perputaran ekonomi di tingkat desa dan kecamatan akan meningkat seiring bertambahnya aktivitas produksi dan distribusi hasil perikanan.

“Dampak langsungnya adalah peluang kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat. Bukan hanya masyarakat Desa Bumi Sama Bahari, tetapi juga wilayah Kecamatan Bolano dan Kabupaten Parigi Moutong secara umum,” jelasnya.

Ia menyebutkan, langkah lanjutan yang akan dilakukan setelah adanya persetujuan adalah mempersiapkan seluruh aspek pendukung, mulai dari kesiapan lahan, kelengkapan administrasi, hingga penyiapan sumber daya manusia. Masyarakat, termasuk wali santri dan warga sekitar pondok pesantren, akan dilibatkan secara langsung dalam pengelolaan program tersebut.

“Kalau ini disetujui, langkah selanjutnya adalah persiapan launching, kesiapan lahan, administrasi, dan menyiapkan generasi serta potensi masyarakat, baik di bidang budidaya ikan, perikanan, maupun sarana pendukung lainnya,” ujar Ahmad.

Terkait respons pemerintah daerah, Ahmad Wargono menyampaikan bahwa Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid menunjukkan sikap yang sangat positif dan mendukung penuh, sebab, ini selaras dengan salah satu program pemprov BERANI Tangkap Banyak. Bahkan, menurutnya, gubernur mendorong agar pengajuan anggaran dilakukan secara maksimal demi kemajuan daerah dan kemandirian masyarakat pesisir.

“Pak Gubernur sangat merespons positif dan mendukung. Beliau menitipkan pesan agar meminta anggaran yang memadai ke Pak Menteri supaya daerah kita bisa lebih maju dan mandiri,” ungkapnya.

Optimisme terhadap realisasi program ini juga cukup tinggi. Ahmad Wargono menyatakan keyakinannya bahwa peluang terealisasinya program tersebut mencapai 99 persen. Keyakinan itu didasarkan pada pengalaman sebelumnya dalam mengelola program ekonomi pesantren yang tergabung dalam himpunan ekonomi dan bisnis pesantren, yang telah berjalan dan memberikan dampak nyata.

“Kami sudah merintis kemandirian ekonomi pesantren dan masyarakat sekitar. Program ini akan dikelola langsung oleh wali santri dan masyarakat Desa Sama Bahari,” katanya.

Untuk jangka panjang, BUMTREN KOPONTREN Al-Hikmah juga telah menyiapkan rencana pengembangan lanjutan. Setelah Kampung Nelayan Merah Putih dan budidaya kerapu cantang berjalan, pengembangan sektor pariwisata religi akan menjadi fokus berikutnya melalui kerja sama dengan Badan Wakaf Produktif Nasional.

“Ke depan, kami juga akan mengembangkan pariwisata religi. Kerja samanya sudah ada, tinggal realisasi. Program ini diharapkan bisa menyerap alumni pesantren dan masyarakat sekitar yang belum memiliki pekerjaan tetap,” jelas Ahmad.

Ia menambahkan, program tersebut telah disosialisasikan kepada masyarakat dan mendapatkan respons yang baik. Meskipun konsep Kampung Nelayan Merah Putih masih tergolong baru bagi sebagian warga, antusiasme masyarakat dinilai cukup tinggi karena program ini dianggap sebagai terobosan untuk mendorong kemandirian desa.

“Respon masyarakat alhamdulillah sangat baik. Ini adalah terobosan baru untuk menjadikan desa lebih mandiri, maju, dan mengangkat potensi lokal yang ada,” katanya.

Ahmad Wargono berharap seluruh pemangku kepentingan dapat bersinergi apabila program ini benar-benar terwujud. Ia menekankan pentingnya kerja sama antara masyarakat, pemerintah desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga seluruh pemangku kepentingan lainnya.

“Harapan kami, jika ini terwujud, seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah bisa bahu-membahu. Kemajuan Sama Bahari adalah kemajuan daerah dan Sulawesi Tengah secara keseluruhan,” harapnya.

Kepala Desa Sama Bahari, Moh. Malik, turut menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada pemerintah daerah atas dukungan yang telah diberikan terhadap rencana pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih dan budidaya ikan kerapu cantang di wilayahnya.

“Atas nama pemerintah desa dan seluruh masyarakat Desa Sama Bahari, kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah daerah, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi, yang telah memberikan perhatian dan dukungan terhadap pengusulan program ini. Dukungan tersebut menjadi semangat bagi masyarakat kami untuk terus berpartisipasi aktif dalam pembangunan desa,” kata Moh. Malik.

Ia berharap sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan masyarakat dapat terus terjaga agar program yang diusulkan benar-benar terealisasi dan memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir Desa Sama Bahari dan sekitarnya. (Rifai)