Seluruh Korban Ditemukan, Operasi SAR Pesawat ATR Resmi Selesai
Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, resmi ditutup setelah berlangsung selama tujuh hari. Penutupan dilakukan usai seluruh korban yang berhasil ditemukan dapat dievakuasi dan diserahkan kepada tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri untuk proses identifikasi lebih lanjut.
Keputusan penutupan operasi SAR disampaikan langsung oleh Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) RI, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, dalam konferensi pers yang digelar di Kantor Basarnas Makassar, Jumat, 23 Januari 2026, malam. Dalam keterangannya, Syafii menegaskan bahwa operasi SAR dinyatakan selesai setelah seluruh target pencarian yang memungkinkan telah dilaksanakan oleh tim gabungan.
“Malam hari ini, saya selaku Kepala Badan SAR Nasional dan SAR Coordinator menyatakan operasi pencarian dan evakuasi kecelakaan pesawat ATR dinyatakan selesai,” kata Mohammad Syafii dalam konferensi pers tersebut.
Operasi SAR ditutup setelah pada hari ketujuh tim gabungan kembali menemukan tujuh body pack di sekitar lokasi jatuhnya pesawat. Dari tujuh kantong tersebut, enam di antaranya berisi jenazah dalam kondisi utuh, sementara satu body pack lainnya berisi potongan tubuh atau body part. Seluruh temuan tersebut langsung dievakuasi dan diserahkan kepada tim DVI Polri untuk dilakukan proses identifikasi secara medis dan forensik.
Sebelumnya, tim SAR telah lebih dahulu menyerahkan empat body pack ke Posko DVI Biddokkes Polda Sulawesi Selatan di Makassar. Dari empat jenazah tersebut, tiga korban telah berhasil diidentifikasi dan diserahkan kepada pihak keluarga masing-masing. Sementara satu jenazah lainnya masih menjalani proses identifikasi lanjutan oleh tim DVI Polri.
Syafii menjelaskan bahwa selama pelaksanaan operasi SAR, tim dihadapkan pada berbagai tantangan berat, terutama kondisi cuaca ekstrem dan medan yang sulit di kawasan pegunungan Bulusaraung. Pada hari pertama operasi, cuaca dilaporkan sangat tidak bersahabat sehingga menghambat pergerakan tim di lapangan. Meski demikian, secara bertahap upaya pencarian terus dilakukan hingga akhirnya korban pertama berhasil ditemukan pada hari kedua operasi.
“Kita sama-sama menyaksikan cuaca hari pertama sangat sulit, hari kedua ditemukan korban pertama, hari ketiga korban kedua. Dan hari ketujuh ini operasi berjalan optimal hingga seluruh korban yang ditemukan berhasil dievakuasi,” ujar Syafii.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan evakuasi seluruh korban yang ditemukan tidak terlepas dari kerja sama dan koordinasi lintas instansi yang berjalan dengan baik selama operasi berlangsung. Seluruh unsur yang terlibat, baik dari Basarnas, TNI, Polri, relawan, maupun masyarakat setempat, bekerja secara maksimal di tengah keterbatasan yang ada.
Meskipun operasi SAR dinyatakan resmi ditutup, Syafii menegaskan bahwa upaya pencarian dan evakuasi belum sepenuhnya dihentikan. Basarnas masih akan melakukan operasi dalam bentuk kesiagaan, khususnya apabila di kemudian hari ditemukan bagian tubuh korban lain atau serpihan pesawat di sekitar lokasi kejadian.
“Operasi tidak mungkin ditutup sepenuhnya. Apabila sewaktu-waktu ditemukan bagian tubuh korban atau serpihan pesawat, maka akan dilanjutkan dengan operasi kesiagaan rutin oleh Kantor Basarnas Makassar,” katanya.
Hingga penutupan operasi, Basarnas mencatat telah menyerahkan total 11 body pack kepada tim DVI Polri. Dari jumlah tersebut, tiga jenazah telah berhasil diidentifikasi dan diserahkan kepada keluarga korban. Pihak DVI Polri memastikan bahwa 11 body pack yang diterima tersebut mewakili 10 jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500.
Selain fokus pada evakuasi korban, tim SAR juga berhasil mengevakuasi dua unit kotak hitam atau black box pesawat. Kedua perangkat penting tersebut telah diserahkan kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk kepentingan investigasi penyebab kecelakaan. Data dari black box diharapkan dapat memberikan gambaran menyeluruh terkait kondisi penerbangan sebelum pesawat mengalami kecelakaan.
Dalam kesempatan yang sama, Mohammad Syafii menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam operasi SAR. Ia menyebut dukungan dari berbagai unsur sangat membantu kelancaran proses pencarian dan evakuasi di lapangan.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh unsur yang terlibat, mulai dari TNI AD, TNI AU, TNI AL wilayah Sulawesi Selatan, Polda Sulsel beserta jajaran, relawan SAR, hingga masyarakat setempat yang telah membantu tanpa kenal lelah,” ucapnya.
Sejauh ini, tim DVI Polri telah mengidentifikasi tiga korban kecelakaan pesawat tersebut. Mereka adalah Florencia Lolita Wibisono dan Esther Aprilita Binarsit Sianipar yang merupakan pramugari pesawat, serta Deden Maulana yang tercatat sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Proses identifikasi korban lainnya masih terus dilakukan oleh tim DVI menggunakan metode forensik yang berlaku.
Diketahui, pesawat ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT milik maskapai Indonesia Air Transport (AIT) mengangkut 10 orang penumpang dan awak. Pesawat tersebut terbang dengan rute Yogyakarta–Makassar sebelum akhirnya mengalami kecelakaan di kawasan pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, pada Senin, 17 Januari 2026. Hingga kini, penyebab pasti kecelakaan masih dalam proses penyelidikan oleh pihak berwenang.
Sumber: RRI
