“Saya hanya ingin daerah Sulawesi Tengah ini melahirkan satu atau dua klub yang punya nama secara nasional. Daerah lain punya kebanggaan, Sulawesi Tengah punya apa di kancah nasional? Ini yang harus dievaluasi secara menyeluruh, ada apa dengan persepakbolaan Sulteng selama ini,” terangnya.
Ia menambahkan, dorongan untuk ikut terlibat dalam pembenahan sepak bola daerah muncul dari keinginan agar Sulawesi Tengah tidak tertinggal dan mampu bersaing secara sehat dengan daerah lain. Namun demikian, Anwar Hafid tetap membuka ruang bagi pihak lain yang dinilai lebih mampu dan memiliki kapasitas untuk memajukan sepak bola Sulawesi Tengah.
“Jika dalam dinamika pemilihan ASPROV nanti ada pihak yang lebih mampu memajukan sepak bola Sulteng, tentu akan kami dorong,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Anwar Hafid juga memaparkan gagasan dan visi yang ia sebut sebagai tiga arah BERANI, apabila dirinya kelak terlibat dalam pembenahan Asprov PSSI Sulawesi Tengah. Arah pertama adalah BERANI membina dari bawah, yakni melakukan pembinaan atlet sejak usia dini.
Ia menekankan pentingnya pembinaan sepak bola dari desa-desa yang memiliki potensi atlet, serta dari lingkungan sekolah dasar dan menengah melalui kelas-kelas prestasi. Menurutnya, pembinaan yang terstruktur sejak dini akan menjadi fondasi bagi lahirnya pesepak bola berkualitas di masa depan.
Arah kedua adalah BERANI profesional. Dalam konteks ini, Anwar Hafid menilai Asosiasi Kabupaten harus dikelola secara profesional dengan manajemen klub yang baik. Ia juga menekankan pentingnya dukungan infrastruktur olahraga yang memadai di setiap kabupaten.
“Setiap kabupaten idealnya memiliki satu stadion sepak bola yang representatif sebagai pusat olahraga masyarakat dan aset daerah. Pemerintah kabupaten bisa memprogramkan hal ini agar Askab memiliki kehormatan dan daya saing,” jelasnya.
Sementara arah ketiga adalah BERANI menjadikan klub-klub sepak bola di Sulawesi Tengah sebagai bagian dari industri kreatif yang mandiri dan tidak terus bergantung pada anggaran pemerintah daerah. Ia membayangkan klub sepak bola mampu mengembangkan usaha seperti produksi jersey, merchandise, dan berbagai kegiatan ekonomi kreatif lainnya.









