“Biasanya, kalau pemimpinnya berganti, kebijakan tidak dilanjutkan. Tetapi di sini, pembangunan masjid justru menjadi contoh kesinambungan yang luar biasa,” kata Anwar. Ia menambahkan bahwa sinergi kepemimpinan tersebut merupakan contoh baik bagaimana pembangunan yang menyangkut kepentingan masyarakat dapat dijaga tanpa terpengaruh oleh dinamika politik.
Pemerintah daerah juga memastikan akan mengambil peran penuh dalam pengelolaan masjid agar tetap terawat dan bermanfaat bagi umat. Anwar menegaskan bahwa fasilitas masjid dapat digunakan masyarakat untuk kegiatan keagamaan termasuk akad nikah, tetapi yang terpenting adalah menjadikan masjid sebagai pusat ibadah yang hidup setiap hari. Ia mengajak masyarakat untuk memakmurkan masjid bukan hanya melalui perayaan peresmian, tetapi juga melalui pelaksanaan salat lima waktu secara berjamaah.
Dalam tausiyahnya, UAS menyampaikan apresiasi terhadap cara Gubernur Anwar Hafid menjaga masjid sebagai ruang persatuan. Ia menyinggung bahwa ketika mendapat sorban dan busana penyambutan berwarna kuning dan hijau, ia sempat bertanya mengenai asal warna tersebut dan apakah memiliki kaitan dengan identitas politik tertentu. Namun ia mendapatkan penjelasan bahwa tidak ada simbol politik yang dibawa ke dalam masjid.
“Beliau tidak membawa warna partai. Yang dibawa ke masjid adalah La ilaha illallah Muhammadur Rasulullah. Ini pelajaran besar bagi kita semua,” ujar UAS.
Ia mengajak seluruh jamaah untuk meneladani keteladanan tersebut dan memastikan bahwa masjid yang megah ini benar-benar dimakmurkan oleh masyarakat. Menurutnya, pembangunan fisik hanyalah tahap awal, sementara keberlanjutan fungsi masjid sepenuhnya berada di tangan umat.
“Masjidnya sudah berdiri. Tugas kita adalah meramaikan dengan shalat berjamaah,” ujarnya.
Peresmian Masjid Raya Baitul Khairaat juga menorehkan catatan kebanggaan baru bagi Sulawesi Tengah. Selain menjadi ikon keagamaan terbaru, masjid ini mencatat rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) dan diharapkan menjadi pusat syiar Islam yang mampu menggerakkan berbagai kegiatan keagamaan dan sosial. Keberadaan masjid ini disebut akan menjadi ruang persatuan yang memperkuat hubungan antarmasyarakat serta memperkaya identitas daerah sebagai wilayah yang menjunjung nilai-nilai keagamaan dan kebersamaan.
Di bawah spirit visi “Berani Berkah”, Gubernur Anwar Hafid menyampaikan bahwa masjid ini siap menjadi pusat aktivitas umat, penguat persatuan, dan sumber keberkahan bagi seluruh masyarakat Sulawesi Tengah. Ia berharap bahwa kehadiran Masjid Raya Baitul Khairaat dapat memperkuat ikatan sosial masyarakat dan menjadi bukti bahwa pembangunan yang dilakukan secara berkelanjutan dapat melahirkan karya monumental bagi daerah. Melalui kolaborasi lintas kepemimpinan, masjid ini menjadi simbol bahwa kebersamaan dan komitmen adalah fondasi terpenting dalam membangun masa depan yang lebih baik. ***






