Langkah berikutnya, kata Wagub, adalah pembenahan layanan stroke, kanker, dan neonatal. Ini akan mencakup pembangunan gedung tambahan, pengadaan peralatan penunjang, serta efisiensi anggaran yang dialihkan sepenuhnya ke investasi kesehatan.
dr. Reny juga menjelaskan program jangka panjang Pemprov Sulteng, yakni beasiswa fellowship bagi dokter spesialis dan subspesialis. Namun, ia memberi catatan penting: semua penerima beasiswa wajib mengabdi di Sulawesi Tengah.
“Kami sudah bicara dengan Pak Menteri agar tidak mengeluarkan SIP (Surat Izin Praktik) bila ada yang mencoba pindah dari daerah. Ini soal keberpihakan dan moral,” katanya.
Menteri Kesehatan juga turut mengajak sejumlah pejabat utama kementerian dan tokoh profesi dalam kunjungan ini. Mereka antara lain Dirjen Kesehatan Lanjutan Azhar Jaya, Kepala Pusat Pembiayaan Kesehatan Ahmad Irsan A. Moeis, Ketua Kolegium Bedah Toraks Kardiovaskular Dr. dr. Ketut Putu Yasa, Ketua Kolegium Jantung dan Pembuluh Darah Dr. Renan Sukmawan, Direktur RS Harapan Kita Dr. dr. Iwan Dakota, serta perwakilan tim media sosial Menkes, dr. Alvin Saputra.
Kunjungan kerja ini sekaligus menegaskan bahwa Sulawesi Tengah telah masuk dalam radar utama reformasi layanan kesehatan nasional, dengan langkah awal yang tidak hanya simbolik, tetapi betul-betul operasional. ***









