Ia menyatakan bahwa konflik ini bukan semata antara Israel dan Iran, sebagaimana banyak diberitakan. Ini adalah permusuhan yang lebih luas terhadap seluruh umat Muslim, dengan ancaman langsung terhadap tempat-tempat suci seperti Masjid Al-Aqsa, bahkan hingga Mekkah dan Madinah.
Peringatan itu ia sampaikan bersamaan dengan sorotan pada proyek penggalian bawah tanah Israel di sekitar Masjid Al-Aqsa yang disebutnya telah berlangsung sejak 2005. Sebanyak 27 terowongan diklaim sudah melemahkan fondasi masjid, mengancam keruntuhan fisik situs paling suci ketiga umat Islam.
Di akhir pidato, Sayyed al-Houthi menyerukan unjuk rasa besar-besaran di Sana’a dan wilayah lain sebagai bentuk loyalitas kepada Nabi Muhammad, tempat-tempat suci Islam, dan rakyat Palestina. Ia menyebutnya sebagai jihad dalam bentuk nyata, bukan sekadar simbolik.
“Besok adalah hari mobilisasi dan loyalitas. Saya berharap jumlah massa akan banyak, hebat, dan perkasa,” tegasnya seperti dilansir SABA (Kantor Berita Yaman).
Pernyataan Sayyed al-Houthi memperlihatkan bahwa Yaman bukan sekadar bersuara. Negara ini menempatkan dirinya sebagai salah satu poros aktif dalam perlawanan terhadap dominasi Israel di kawasan, baik di medan militer maupun di ranah diplomasi publik. Pidato ini juga menjadi refleksi bagaimana sebuah negara kecil seperti Yaman mencoba menorehkan pengaruh besar dalam isu Palestina yang telah berlangsung lebih dari tujuh dekade.***









