Hari ke-13 pencarian, langit Bahodopi tampak sedikit lebih tenang. Tak seperti hari-hari sebelumnya yang penuh ketegangan dan kabar hampa. Di sela doa yang terus dipanjatkan, tubuh Irfan Tandi Tasik akhirnya ditemukan diam, tak lagi menjawab panggilan keluarga yang setiap hari setia menanti di bibir lokasi longsor.

Sosok Irfan, pekerja tambang nikel di kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), sebelumnya dilaporkan tertimbun material longsoran bersama rekannya, Akbar. Selama hampir dua pekan, keluarga dan kerabat menolak beranjak dari lokasi. Mereka hanya ingin satu hal, yakni, kepastian.

“Hampir setiap hari, ibu dan ayahnya berada di lokasi pencarian untuk mendoakan agar jasad puteranya segera ditemukan,” ucap seorang warga Bahodopi yang ikut menyaksikan perjuangan panjang itu seperti mengutip Detaknews.

Pukul 11.45 WITA, Kamis 3 April 2025, waktu yang tak akan pernah dilupakan oleh keluarga Irfan. Di tengah proses evakuasi yang penuh kehati-hatian, tim SAR berhasil mengangkat tubuh Irfan dari balik timbunan tanah dan batu di area selatan kawasan IMIP. Setelah 13 hari, akhirnya titik terang itu datang.

“Alhamdulillah, setelah 13 hari dicari, akhirnya Irfan Tandi ditemukan,” tulis seorang netizen dengan nada syukur dalam unggahan Facebook-nya. Sementara yang lain menuliskan, “Puji Tuhan, berkat doa dan dukungan semua pihak, Almarhum Irfan Tandi sudah ditemukan.”

Tubuh Irfan langsung dibawa ke Klinik PT IMIP untuk penanganan lebih lanjut. Setelahnya, jenazah direncanakan akan diantar ke kosnya terlebih dahulu, sebelum dibawa pulang ke kampung halaman di Batustanduk, Kecamatan Walenrang, Kelurahan Bulo, Dusun Lengkong Riri.

“Mungkin selesai ibadah di kos baru diantar pulang,” kata Edwin, salah satu anggota keluarga, dengan suara tertahan.

Namun, duka belum sepenuhnya mereda. Di balik kabar ditemukannya Irfan, masih tersimpan satu nama lagi yang belum kembali, adalah Akbar. Ia masih hilang dalam di tanah tambang. Keluarga korban kedua masih berharap. Berharap agar setidaknya bisa memeluk jenazah untuk terakhir kali.

Setiap detik di lokasi tambang kini adalah waktu yang dipenuhi harap, doa, dan keteguhan hati para keluarga.

Irfan bukan sekadar korban longsor. Ia adalah anak, saudara, teman, dan rekan kerja. Ia adalah cerita tentang pekerja keras yang berani menghadapi risiko demi menyambung hidup.

Kini tubuhnya memang telah kembali. Tapi kepergiannya menyisakan banyak tanya: tentang keamanan kerja, tentang bagaimana kita memperlakukan mereka yang bekerja di perut bumi, tentang bagaimana sebuah nyawa seharusnya tak hanya menjadi statistik.

Namun untuk hari ini, satu keluarga bisa mengakhiri penantian. Mereka bisa mengantar Irfan pulang, meski dalam diam dan duka yang dalam.***