Skrol untuk membaca pos

Profil Emilia Contessa: Perjalanan Seorang Legenda di Dunia Musik, Film, dan Politik

Muh. Rifai
Emilia Contessa. Foto: Istimewa
A-AA+A++

Emilia Contessa, nama yang melekat di hati masyarakat Indonesia sebagai seorang penyanyi bersuara emas, aktris berbakat, dan politikus yang gigih. Lahir dengan nama Nur Indah Citra Sukma Munsyi pada 27 September 1957 di Banyuwangi, Jawa Timur, Emilia adalah sosok multitalenta yang meninggalkan jejak panjang dalam industri hiburan Tanah Air.

Bakat Emilia di dunia tarik suara telah terlihat sejak usia lima tahun. Ibunya, RA Susiani, yang berdarah Jawa-Banyuwangi, menjadi sosok penting dalam perjalanan kariernya dengan berperan sebagai manajer. Sementara ayahnya, Hasan Ali, yang berdarah Pakistan-Madura, turut memberikan dukungan penuh.

Kilau Karier Musik

Karier Emilia mulai bersinar setelah ia meraih juara umum dalam kategori penyanyi pop pada Pekan Olahraga Nasional (PON) VII di Surabaya tahun 1969. Keberhasilan ini membuka jalan baginya untuk tampil di kancah internasional. Setahun kemudian, ia direkrut oleh Lee Kuan Yew, pencari bakat dari Philips Singapura, untuk melakukan rekaman di Singapura.

Di Indonesia, nama Emilia semakin dikenal setelah diperkenalkan oleh Chris Pattikawa dalam acara hiburan di TVRI. Dengan nama panggung Emilia Contessa, ia tampil memukau dengan suara sopran yang kuat dan gaya panggung yang penuh energi. Tak heran jika pada tahun 1975, majalah Asia Week menjulukinya sebagai Singa Panggung Asia.

Beberapa lagu hits yang dibawakannya masih dikenang hingga kini, seperti “Angin November,” “Flamboyan,” “Biarlah Sendiri,” hingga duet legendarisnya bersama Broery Marantika dalam lagu “Layu Sebelum Berkembang.” Emilia juga dikenal sering berkolaborasi dengan musisi lain seperti Benyamin Sueb dan mempersembahkan sejumlah karya yang melekat di benak penggemarnya.

Eksplorasi di Dunia Akting

Tak hanya dalam dunia musik, Emilia juga menorehkan prestasi di dunia akting. Sejak era 1970-an hingga 1980-an, ia tampil di berbagai film layar lebar, membuktikan bakatnya sebagai seorang seniman sejati. Film-film seperti “Brandal-Brandal Metropolitan” (1971), “Perkawinan” (1972), dan “Ratapan Anak Tiri” (1973) berhasil membawa namanya semakin melambung di dunia hiburan. Bahkan di era 1980-an, Emilia kembali mencuri perhatian dalam film komedi populer “Memble Tapi Kece” (1986).