Dalam kesempatan itu, Manager PT.Pelindo Endang Srinengsih menyampaikan bahwa dalam rangka program penurunan stunting yang ada di tiga desa di wilayah Kabupaten Sigi dengan menggunakan dana CSR dari PT. Pelindo.
Berdasarkan SK selaku pemilik dana CSR tersebut, pihaknya meminta agar kiranya permohonan bantuan dana CSR tersebut dapat dibuatkan berupa laporan atau proposal, sehingga dapat ditindaklanjuti atas pengajuan dana CSR dari pusat yang nantinya akan digunakan untuk menyalurkan bantuan baik itu bantuan yang bersifat jangka panjang maupun bantuan yang bersifat jangka pendek serta meminta agar kiranya dalam pengajuan dana CSR tersebut dalam bentuk akumulasi secara keseluruhan sesuai dengan kebutuhan selama 3 bulan tersebut.
Setelah mendengar penjelasan dari pihak PT. Pelindo, Sekwan DPRD Sulteng kembali menyampaikan bahwa terkait penyelenggaraan pemberian bantuan kepada para stunting yang ada di tiga desa di wilayah Kabupaten Sigi, saat ini masih menunggu tindaklanjuti dari pihak PT.Pelindo selaku pemilik dana CSR yang nantinya dana tersebut akan digunakan untuk penyediaan pemberian bantuan berupa tambahan asupan makanan dan asupan gizi kepada para stunting yang ada di tiga desa di wilayah Kabupaten Sigi.
dalam menurunkan angka stunting di Kabupaten Sigi khususnya Desa Valatana, Desa Baluase dan Desa Rogo, Sekertariat DPRD Sulteng bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi, Sekretariat DPRD Kabupaten Sigi, dan PT.Pelindo, bersama-sama berjuang untuk melakukan yang terbaik dan sangat serius menindaklanjuti permasalah stunting yang ada di tiga desa tersebut.
Adapun beberapa hasil indentifikasi permasalahan yang didapatkan dari di tiga Desa tersebut yakni :
- Desa Rogo membuhkan 115 MCK, Desa Walatana membutuhkan 1 MCK, dan Desa Baluase membutuhkan 43 MCK, sehingga dalam hal tersebut penggunaan sarana air bersih dan MCK tidaklah memadai.
- Keluarga yang berisiko stunting yang ada di Desa Rogo sejumlah 40 KK, Desa Walatana sejumlah 7 KK, dan di Desa Baluase sejumlah 25 KK.
- Faktor ekonomi dan kemiskinan.
- Masih tingginya tingkat pernikahan dini/dibawah umur.
- Tingkat pendidikan masih sangat rendah.
- Pola hidup bersih dan sehat (PHBS) belum terlaksana dengan baik.









