Menurut Tebe, keterlibatan perguruan tinggi akan memperkuat upaya yang sudah dilakukan KKP. Sebab perguruan tinggi memiliki sarjana perikanan punya kemampuan dalam menjalankan breeding program, bioteknologi dan sistem klaster komoditas unggulan berbasis kawasan.
“Perguruan tinggi memiliki sarjana – sarjana perikanan berdaya daing dan berkompeten secara teknis. Memiliki high order thinking skill, kemampuan memecahkan masalah yang kompleks,” pungkasnya.
Ketua Forum Pimpinan Perguruan Tinggi Perikanan dan Kelautan (FP2TPK) Indonesia, Prof Maftuch menyatakan komitmen siap mendukung kebijakan dan program pembangunan perikanan budidaya. FP2TPK akan fokus pada lokal spasial dengan mengembangkan kurikulum berbasis kearifan lokal sesuai kebutuhan pasar saat ini. Pihaknya juga siap mendukung dalam hal produksi benih, induk unggul, dan pakan ikan.
Prof Maftuch menyarankan agar KKP turut melibatkan dunia usaha berpengalaman, serta masyarakat dalam merencanakan pembangunan budidaya Indonesia.
“FP2TPK Indonesia menyepakati bersama KKP dalam hal ini DJPB membangun konsep isu-isu strategis dalam rangka menumbuhkan minat generasi muda pada usaha perikanan budidaya,” ujar Prof Maftuch.
Dia juga mengakui pentingnya jaminan kelestarian ekosistem dalam mengembangkan perikanan budidaya. Selain sumber daya manusia andal, fasilitas instalasi pengelolaan air limbag (IPAL) hingga penggunaan energi baru dan terbarukan dibutuhkan untuk mendorong kegiatan budidaya yang produktif dan ramah lingkungan.





