Secara situasi, Indonesia berada di atas angin.
Unggul jumlah pemain. Bermain di kandang. Dan mendapatkan tendangan bebas dari posisi yang sangat menjanjikan.
Dean James maju sebagai eksekutor.
Tendangannya keras. Bola kemudian membentur pemain Thailand, berubah arah, dan mengecoh Saranon Anuin.
Gol!
Indonesia unggul 1-0 pada menit ke-84.
SUGBK bergemuruh.
Namun, justru setelah berada dalam posisi yang seharusnya paling nyaman, Indonesia kembali dibuat deg-degan.
Tiga menit berselang, Thailand menyamakan kedudukan.
Seksan Ratree mengirim umpan silang ke area berbahaya dan Iklas Sanron menyambutnya dengan tembakan first time. Emil Audero tak mampu menghentikan bola.
1-1.
Thailand bermain dengan 10 orang, tetapi Indonesia gagal memanfaatkan keunggulan tersebut secara maksimal.
Dan final kembali menjadi terbuka.
Thailand Membalikkan Keadaan, Baggott Menolak Kalah
Pertandingan masuk babak tambahan.
Energi kedua tim mulai terkuras. Pergantian pemain dilakukan untuk menjaga intensitas, sementara ruang di lapangan semakin terbuka.
Indonesia sebenarnya lebih banyak mencoba menekan. Tetapi Thailand masih memiliki satu senjata berbahaya: serangan balik.
Pada menit ke-110, serangan cepat Thailand berujung petaka bagi Garuda.
Peeradol Chamrasamee mendapatkan ruang dan melepaskan tembakan yang menaklukkan Emil Audero.
Thailand berbalik unggul 2-1.
Dalam kondisi seperti itu, final hampir saja berubah menjadi mimpi buruk.
Indonesia sudah kehilangan banyak tenaga. Waktu semakin sedikit. Thailand tinggal mempertahankan keunggulan untuk mengangkat trofi.
Tetapi Garuda tidak berhenti.
Enam menit kemudian, Indonesia mendapatkan gol yang mungkin menjadi salah satu momen paling penting dalam perjalanan tim ini.
Rizky Ridho mengirim umpan tarik ke dalam kotak penalti. Elkan Baggott yang ikut maju menyambut bola dan melepaskan penyelesaian yang membuat SUGBK kembali pecah.
2-2 pada menit ke-116.
Indonesia kembali dari kematian.
Dan Thailand kembali kehilangan keunggulan yang sudah berada di depan mata.
Tidak ada gol lagi sampai babak tambahan berakhir.
Trofi harus ditentukan lewat adu penalti.
Dari Titik Putih, Indonesia Menulis Sejarah
Adu penalti selalu punya cerita sendiri.
Dalam situasi seperti ini, kualitas teknik saja tidak cukup. Ada tekanan, suara puluhan ribu suporter, dan satu pertanyaan sederhana yang terus berputar di kepala setiap eksekutor: masuk atau gagal?









