Seperti biasa, Lionel Messi masih menjadi pusat permainan Argentina. Kapten tim itu langsung mencetak hat-trick saat mengalahkan Aljazair 3-0 pada laga pembuka. Setelah itu, ia terus menambah koleksi gol ketika menghadapi Austria, Yordania, Tanjung Verde, hingga Mesir.
Namun, kekuatan Argentina pada Piala Dunia 2026 tidak hanya bergantung kepada Messi. Lionel Scaloni berhasil membangun tim yang lebih seimbang. Hingga semifinal, tujuh pemain lain ikut mencetak gol, sementara delapan pemain berbeda menyumbang assist. Artinya, ancaman Argentina bisa datang dari berbagai lini.
Hal yang juga patut diperhatikan adalah efektivitas Argentina saat menghadapi laga berat. Dua pertandingan fase gugur mereka harus diselesaikan hingga babak perpanjangan waktu. Tanjung Verde dan Swiss sama-sama memaksa Argentina bekerja ekstra sebelum akhirnya La Albiceleste keluar sebagai pemenang.
Di lini belakang, duet Cristian Romero dan Lisandro Martinez tetap menjadi fondasi utama pertahanan Argentina. Sementara Emiliano Martinez kembali menunjukkan kualitasnya sebagai salah satu penjaga gawang terbaik dunia dengan sejumlah penyelamatan penting sepanjang turnamen.
Jika melihat statistik, Inggris sedikit lebih efisien karena mampu menyelesaikan semua pertandingan tanpa perpanjangan waktu, kecuali lawan Meksiko yang berlangsung ketat. Sebaliknya, Argentina sudah dua kali bermain hingga 120 menit. Kondisi fisik bisa menjadi faktor yang cukup menentukan pada semifinal nanti.
Meski demikian, pengalaman Argentina di fase empat besar tidak bisa dipandang sebelah mata. Dari lima semifinal Piala Dunia sebelumnya, mereka selalu berhasil melangkah ke final. Rekor sempurna tersebut menjadi modal psikologis yang tidak dimiliki Inggris.
Sebaliknya, Inggris masih dibayangi kegagalan di semifinal. Pada Piala Dunia 1990 mereka kalah melalui adu penalti dari Jerman Barat. Delapan tahun lalu, Inggris juga gagal ke final setelah kalah dari Kroasia pada semifinal Piala Dunia 2018.
Laga ini juga kembali menghidupkan rivalitas panjang kedua negara di Piala Dunia. Inggris sempat mendominasi pertemuan awal pada 1962 dan 1966. Namun, duel di Meksiko 1986 menjadi yang paling dikenang setelah Diego Maradona mencetak gol “Tangan Tuhan” dan gol solo terbaik sepanjang sejarah Piala Dunia.









