Semifinal Piala Dunia 2026 menghadirkan satu laga yang sudah lama dinantikan pecinta sepak bola. Inggris akan menghadapi Argentina dalam duel dua kekuatan besar yang sama-sama datang dengan modal impresif. Namun, jika melihat perjalanan kedua tim sepanjang turnamen, pertandingan ini bukan melulu adu kualitas pemain, melainkan juga pertarungan mental, pengalaman, dan sejarah.

Inggris datang ke semifinal dengan kepercayaan diri tinggi. Tim asuhan Thomas Tuchel memang tidak selalu tampil dominan, tetapi mereka menunjukkan satu hal yang sangat penting di turnamen besar, yakni kemampuan bangkit saat berada di bawah tekanan.

Perjalanan Inggris dimulai dengan kemenangan 4-2 atas Kroasia di laga pembuka Grup L. Setelah bermain imbang tanpa gol melawan Ghana, mereka memastikan posisi juara grup berkat kemenangan 2-0 atas Panama.

Ujian sesungguhnya justru datang pada fase gugur. Inggris sempat tertinggal sebelum membalikkan keadaan saat menghadapi Republik Demokratik Kongo di Babak 32 Besar. Pada Babak 16 Besar, mereka bahkan harus bermain dengan 10 pemain ketika menyingkirkan tuan rumah Meksiko. Di perempat final, skenario serupa kembali terjadi. Sempat tertinggal dari Norwegia, Inggris membalikkan keadaan dan menang 2-1 berkat dua gol Jude Bellingham.

Dari enam pertandingan yang sudah dijalani, karakter permainan Inggris terlihat jelas. Mereka bukan tim yang selalu menguasai pertandingan, tetapi mampu menemukan cara untuk menang ketika situasi semakin sulit. Karakter seperti ini sering menjadi pembeda pada fase akhir Piala Dunia.

Produktivitas lini depan juga menjadi nilai lebih The Three Lions. Harry Kane dan Jude Bellingham sama-sama mengoleksi enam gol sepanjang turnamen. Catatan tersebut menjadi sejarah baru karena belum pernah ada tim yang memiliki dua pemain dengan enam gol dalam satu edisi Piala Dunia.

Tidak hanya mengandalkan dua pemain itu, Inggris juga memiliki banyak sumber kreativitas. Anthony Gordon dan Bukayo Saka sama-sama sudah mencatat tiga assist, sementara Marcus Rashford turut memberikan kontribusi gol.

Di sisi lain, Argentina datang dengan status yang berbeda. La Albiceleste bukan hanya juara bertahan, tetapi juga menjadi satu-satunya semifinalis yang membawa ambisi mempertahankan gelar juara dunia.

Seperti biasa, Lionel Messi masih menjadi pusat permainan Argentina. Kapten tim itu langsung mencetak hat-trick saat mengalahkan Aljazair 3-0 pada laga pembuka. Setelah itu, ia terus menambah koleksi gol ketika menghadapi Austria, Yordania, Tanjung Verde, hingga Mesir.

Namun, kekuatan Argentina pada Piala Dunia 2026 tidak hanya bergantung kepada Messi. Lionel Scaloni berhasil membangun tim yang lebih seimbang. Hingga semifinal, tujuh pemain lain ikut mencetak gol, sementara delapan pemain berbeda menyumbang assist. Artinya, ancaman Argentina bisa datang dari berbagai lini.

Hal yang juga patut diperhatikan adalah efektivitas Argentina saat menghadapi laga berat. Dua pertandingan fase gugur mereka harus diselesaikan hingga babak perpanjangan waktu. Tanjung Verde dan Swiss sama-sama memaksa Argentina bekerja ekstra sebelum akhirnya La Albiceleste keluar sebagai pemenang.

Di lini belakang, duet Cristian Romero dan Lisandro Martinez tetap menjadi fondasi utama pertahanan Argentina. Sementara Emiliano Martinez kembali menunjukkan kualitasnya sebagai salah satu penjaga gawang terbaik dunia dengan sejumlah penyelamatan penting sepanjang turnamen.

Jika melihat statistik, Inggris sedikit lebih efisien karena mampu menyelesaikan semua pertandingan tanpa perpanjangan waktu, kecuali lawan Meksiko yang berlangsung ketat. Sebaliknya, Argentina sudah dua kali bermain hingga 120 menit. Kondisi fisik bisa menjadi faktor yang cukup menentukan pada semifinal nanti.

Meski demikian, pengalaman Argentina di fase empat besar tidak bisa dipandang sebelah mata. Dari lima semifinal Piala Dunia sebelumnya, mereka selalu berhasil melangkah ke final. Rekor sempurna tersebut menjadi modal psikologis yang tidak dimiliki Inggris.

Sebaliknya, Inggris masih dibayangi kegagalan di semifinal. Pada Piala Dunia 1990 mereka kalah melalui adu penalti dari Jerman Barat. Delapan tahun lalu, Inggris juga gagal ke final setelah kalah dari Kroasia pada semifinal Piala Dunia 2018.

Laga ini juga kembali menghidupkan rivalitas panjang kedua negara di Piala Dunia. Inggris sempat mendominasi pertemuan awal pada 1962 dan 1966. Namun, duel di Meksiko 1986 menjadi yang paling dikenang setelah Diego Maradona mencetak gol “Tangan Tuhan” dan gol solo terbaik sepanjang sejarah Piala Dunia.

Persaingan berlanjut pada Piala Dunia 1998 ketika Argentina menang melalui adu penalti dalam pertandingan yang diwarnai kartu merah David Beckham. Empat tahun kemudian, Beckham membalas dengan gol penalti yang membawa Inggris menang sekaligus membuat Argentina tersingkir pada fase grup.

Kini, sejarah kembali mempertemukan kedua tim dalam laga yang jauh lebih besar. Inggris membawa generasi baru yang haus prestasi, sementara Argentina berusaha menjaga dominasi sebagai juara bertahan.

Pada akhirnya, pertandingan ini kemungkinan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki pemain terbaik, tetapi juga oleh tim yang paling mampu mengendalikan tekanan di momen-momen krusial. Inggris memiliki momentum dan semangat kebangkitan, sedangkan Argentina datang dengan pengalaman serta tradisi selalu menang di semifinal.

Siapa pun yang keluar sebagai pemenang akan menghadapi Prancis atau Spanyol pada partai final Piala Dunia FIFA 2026 yang berlangsung 19 Juli di New York New Jersey Stadium. (Red)