Borneo FC juga mendapat penghargaan Fair Play setelah dinilai menjadi tim paling disiplin dan menjunjung tinggi sportivitas selama kompetisi berlangsung. Penghargaan ini memperlihatkan bahwa Pesut Etam bukan hanya kuat secara teknis, tetapi juga mampu menjaga etika permainan di lapangan.
Sementara itu, Persib Bandung tetap menjadi pusat perhatian utama setelah memastikan gelar juara ketiga secara beruntun. Kepastian tersebut didapat usai bermain imbang 0-0 melawan Persijap Jepara pada laga pekan ke-34 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Sabtu (23/5).
Persib menutup musim dengan 79 poin dari 34 pertandingan dan hanya menelan tiga kekalahan sepanjang kompetisi. Konsistensi itu menjadi kunci keberhasilan Maung Bandung mempertahankan dominasi mereka di sepak bola nasional.
Keberhasilan Persib tidak lepas dari peran sang pelatih, Bojan Hodak. Pelatih asal Kroasia itu kembali dinobatkan sebagai Best Coach setelah dinilai sukses menjaga performa stabil timnya sepanjang musim.
Di bawah tangan dingin Bojan Hodak, Persib tampil lebih matang dan efektif. Mereka tidak selalu mendominasi permainan, tetapi mampu tampil efisien dalam memanfaatkan peluang dan menjaga ritme kompetisi.
Dari kategori pemain muda terbaik, penghargaan diberikan kepada Dony Tri Pamungkas dari Persija Jakarta. Bek muda berusia 21 tahun itu tampil impresif bersama Macan Kemayoran dengan catatan 26 pertandingan dan satu gol musim ini.
Penampilan Dony menjadi salah satu sinyal positif munculnya regenerasi pemain muda berkualitas di kompetisi domestik. Kepercayaan yang diberikan pelatih mampu dijawab lewat performa yang stabil sepanjang musim.
Sementara itu, penghargaan Best Goal musim ini jatuh kepada Muhammad Iqbal dari PSIM Yogyakarta. Gol salto spektakulernya saat menghadapi Madura United FC pada pekan ke-33 menjadi salah satu momen paling memorable di BRI Super League musim ini.
Gol tersebut lahir dalam kemenangan 2-1 PSIM dan langsung menjadi perbincangan luas karena kualitas teknik serta keberanian Iqbal mengeksekusi peluang dengan cara yang tidak biasa.
Berakhirnya musim 2025/26 tidak hanya meninggalkan cerita soal juara, tetapi juga menghadirkan persaingan individu yang ketat di hampir semua lini. Dari ketajaman David da Silva, kreativitas Mariano Peralta, hingga konsistensi Nadeo Argawinata, kompetisi musim ini menunjukkan kualitas pemain yang semakin merata.







