“Kalau biasanya kita Lebaran hanya di kos, kali ini sangat berbeda. Rasanya seperti berlebaran di kampung halaman karena semua yang hadir adalah warga Sulawesi Tengah,” tuturnya.
Hal senada juga disampaikan Farhan. Ia menilai keramahan tuan rumah memberikan pengalaman Lebaran yang lebih berkesan meski berada jauh dari keluarga. Menurutnya, suasana yang terbangun mampu mengurangi rasa rindu terhadap kampung halaman.
Sementara itu, Krisna Puspita yang telah lama menetap di Yogyakarta juga merasakan kebahagiaan yang sama. Ia mengungkapkan bahwa kebersamaan dalam acara tersebut menghadirkan rasa kekeluargaan yang kuat di antara para peserta.
“Hari ini senang sekali, sangat! Bisa bertemu dengan teman-teman dari Sulteng dengan segala keanekaragaman. Seperti pulang ke rumah, semua ramah, seperti saudara. Menyanyi, menari, makan dan minum bersama. Sangat seru,” ungkapnya.
Kegiatan halal bihalal ini tidak hanya menjadi tradisi tahunan semata, tetapi juga menjadi simbol kuatnya ikatan persaudaraan warga Sulawesi Tengah di perantauan. Di tengah jarak yang memisahkan dari keluarga di kampung halaman, kebersamaan yang tercipta dalam acara tersebut mampu menghadirkan kehangatan yang serupa dengan suasana Lebaran di rumah.
Selain itu, kegiatan ini juga memperlihatkan bagaimana solidaritas antarperantau tetap terjaga meski berada di lingkungan yang berbeda. Para peserta tidak hanya datang untuk bersilaturahmi, tetapi juga untuk saling mendukung dan memperkuat hubungan sosial yang telah terjalin. ***









