Skrol untuk membaca pos

Anwar Hafid: Sulteng Butuh Pemimpin yang Gila Urusan dan Berani

Muh. Rifai
A-AA+A++

Ironisnya lagi, pajak ore hanya berlaku dimulut tambang. Sedangkan dimulut diindustri tidak. Makanya daerah sangan dirugikan, karena dana bagi hasil antara pusat dengan daerah kecil.

“Dua (2) Triliun rupiah pendapatan asli daerah kita dari Rp, 900 juta tergolong kecil. Coba kalau pengenaan panjak di mulut industri, maka mungkin kita seperti negara brunae darussalam pengangguranpun di gaji,” terang mantan bupati Morowali dua periode itu.

Anwar Hafid menegsakan bahwa Industri IMIP itu tdak dikenakan pajak sehingga kecil bagi hasilnya. Hal ini terjadi karena regulasi 25 tahun bagi perusahaan industri tambang seperti IMIP dan tax holiday.

“Kalau pengenaan pajaknya dimulut industri tambang maka PAD kita bisa sampai Rp,100 triliun. Tapi pengawasan harus diperketat. Sebab masih banyak kebocoran disektor pertambangan kita, istilanya kalau di Morowali banyak Pelaku (penambang lahan koridor. Artinya menambang di luar IUP,” ujar anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat itu.

Anwar Hafid, menegaskan, saat ini daerah Morowali dan Morut sudah pendarahan akibat eksploitasi pertambangan yang masif dan kurang pengawasan.

“Dahulu waktu saya jadi camat di Sorowako Luwu Timur saya lihat danau Sorowaku tidak pernah airnya keruh. Padahal disana ada industri tambang seperti PT. Vale. Tapi kalau di Morut dan Morowali kasihan (lingkungannya) airnya sudah sangat tercemar yang saya sebut sudah pendarahan,” terang calon gubernur yang diusung Partai Demokrat, PBB dan PKS ini.

Anwar Hafid menambahkan, tenaga kerja dan tenan-tenan di IMIP 80 persen dari luar. Padahal kalau ini optimal, maka harusnya tenan-tenan dan tenaga kerja lokal kita yang lebih banyak.

“Misalnya pengadaan kebutuhan 9 bahan pokok di IMIP, mestinya masyarakat kita yang adakan, termasuk pengadaan pakaian dinas perusahaan. Olehnya kita harus bersama – sama berjuang untuk pengalihan pajak dari mulut tambang ke industri tambang dan pemberdayaan masyarakat lokal,” tutur Anwar Hafid.

Anwar mengisahkan saat menjadi bupati di Morowali, dimana dirinya lima tahun mencari investor ke China, tapi tidak dapat-dapat. Karena mengangga berinvestasi di Indonesia rumit dan banyak pungutan.