Kesuksesan Rhoma Irama dalam membuat musik dangdut menjadi salah satu musik yang digemari oleh banyak orang membuatnya semakin dikenal. Bahkan pada 13 Oktober 1973, Rhoma Irama merencanakan sebuah semboyan yaitu Voice of Moslem (Suara Muslim) dengan tujuan untuk menjadi agen atau pembaharu di dunia musik. Ia memadukan musik rock dan melayu dan melakukan berbagai macam improvisasi terhadap aransemen musik, syair, lirik, kostum, dan penampilan di atas panggung.
Atas jeniusnya Rhoma Irama dalam hal mengawinkan berbagai unsur musik menjadi musik yang khas ala Rhoma Irama, ia bahkan dikatakan sebagai Rhoma Pionir. Selain itu, perpaduan dari berbagai genre musik yang menjadi satu itulah yang kemudian membuat nuansa musik yang diciptakan oleh Rhoma Irama terdengar sangat berbeda dan unik.
Rhoma Irama mendapatkan gelar sebagai raja adalah ketika Majalah Asia Week edisi XVI yang terbit pada bulan Agustus 1985 menyebutkan bahwa Rhoma Irama merupakan Raja Musik Asia Tenggara. Gelar tersebut ia dapatkan ketika majalah tersebut melakukan liputan tentang pertunjukan konser Soneta Group yang digelar di Kuala Lumpur.
Tidak hanya itu, Rhoma Irama juga mendapatkan penghargaan dari majalah yang berasal dari Amerika Serikat. Di tahun 1992, Majalah Entertainment di edisi Februari menyebutkan bahwa Rhoma Irama sebagai The Indonesian Rocker. Dari sorotan dan julukan tersebut semakin memuluskan laju karier sosok Rhoma Irama sebagai salah satu pemusik terbaik di dunia.
Di tahun 1994, karier di dunia musik Rhoma Irama berkembang pesat ketika ia menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan perusahaan musik Life Record di jepang. Dari kesepakatan tersebut, 200 judul lagu milik Rhoma Irama akan direkam ulang dalam bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Hal itu dilakukan dalam rangka untuk memperkenalkan musik Rhoma Irama di pasar internasional.
Karier Film
Selain sukses menjadi seorang musisi dan merajai dunia musik beraliran dangdut yang khas, Rhoma Irama juga melebarkan sayapnya untuk melanjutkan kariernya di dunia perfilman. Sejak tahun 1977, Rhoma mulai masuk ke dunia peran dengan membintangi sebuah film berjudul Jakarta Jakarta. Dari film tersebut ia kemudian mendapatkan kesempatan untuk menjadi aktor di beberapa film setelahnya seperti Salah Kamar (1978), Wadam (1978), Bayang-Bayang Kelabu (1979), Cinta Camelia (1979), Satria Bergitar (1983), dan Pengabdian (1984) dan lain sebagainya.



