Skrol untuk membaca pos

Mampukah PDI-P Hattrick?

Muh. Rifai
Andono Wibisono (praktisi media)
A-AA+A++

Mega mengapa kalah? Padahal berkuasa? Ini perlu dielaborasi oleh semua kader dan simpatisan PDIP hemat saya. Bisa jadi karena gaya SBY memainkan ‘jemderal cengeng’ dari ucapan Taufik Keimas atau apa itu variabel lain. Tentu masih banyak variabel untuk bisa dipakai mengukur kekalahan Mega 2004. Karena Pemilu kala itu dua putaran. Ini kali kedua trah Soekarno kalah di kancah politik pasca reformasi. 1999 dan 2004.

Lantas mengapa pemilu 2014 dan 2019 PDIP kembali dua kali berturut-turut? Apakah masih karena trah Soekarno? Apakah karena Mega mampu memosisikan diri kembali ke asal mula berdirinya partai wong cilik yaitu oposisi?

Catatan saya sejak 1999 sudah menulis berita politik, setidaknya ada dua variabel besar. Pertama; variabel fanatik idiologis di PDIP. Yaitu di pinggiran Jawa, kaum feodalistik dan premordial masih sangat besar percaya ke Soekarno. Idiologi marhaenaisme, bahkan Soekarnoisme. Kekuatan PDIP itu. Di Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur, Bali, Sumatera dan lainnya.

Variabel kedua; PDIP diuntungkan dengan tampilnya seorang yang dianggap benar-benar wakil wong cilik. Lugu, bersahaja, memiliki keinginan kuat membela wong cilik, lahir dari keluarga biasa. Yaitu Jokowi. Kembali arus bawah dan marwah parpol oposisi memiliki amunisi maha dahsyat. Dua periode Demokrat tak mampu hattrick!

Pertanyaannya seperti judul di atas? Mampukah PDIP di pemilu 2024 ini memenangi pemilihan legislatif dan sekaligus Pilpres? Dua kali hattrick (Pileg dan Pilpres). Masih sangat kabur, atau sangat begitu dinamis. Masih sisa 1,5 tahun gelaran serentak pemilu 2024.

Standing point yang ingin saya tulis yaitu; mampukah PDIP mempertahankan variabel yang dipersonifikasikan sebagaimana Jokowi? Kedua; PDIP mesti belajar banyak dari catatan pemilu Mega yang trah Soekarno kalah di 1999, 2004, 2009 dan 2014. Pun menang 2014 dan 2019 bukan trah Soekarno juga presidennya. Di sinilah bisingnya demokrasi di Indonesia.