Mbah Tamin duduk di sebuah kursi panjang, matanaya menerawang jauh di teras rumah gubuk, sementara Sri dan yg lain berdiri, siap dengan penjelasan tentang semua ini.

Suasana hutan kian mencekam, setiap sudut pohon seakan hidup dan mengamati mereka, Sri merasa kecil di tempat ini.

“Aku isih iling, cah cilik ayu, ceria, ra nduwe duso” (aku masih ingat, anak kecil, cantik, ceria, belum punya dosa) “koyok jek wingi yo, tapi, cah cilik iku, sak iki, nang ambang nyowo, perkoro Santet menungso laknat!” (seperti baru kemarin rasanya, tapi sekarang, anak kecil itu terbaring sakit, melawan kodrat nyawanya, hanya karena santet dari manusia biadab!!) wajah mbah Tamin menegang, kosakata kalimatnya seperti penuh amarah, membuat Sri dan yg lain begidik ngeri.

“Cah cilik iku, Dela, yo iku, sing nang kamar” (anak kecil itu Dela, dia yg di kamar).

“SANTET?” ucap Sri dan yg lain bersamaan. Wajah Sri dan yg lain semakin menegang.

“iyo, mangkane, cah iku, digowo nang kene, disingitno, ben isok tahan, sampe ketemu Awulurane” (iya, karena itu dia disembunyikan disini, biar bisa bertahan, sampai ketemu cara memasang santetnya).

“Disingitno tekan sinten mbah” (disembunyikan dari siapa mbah?) tanya Sri, yg semakin tertarik, seakan semua yg ada disini membuatnya penasaran.

Mbah Tamin menatap Sri, matanya seakan tidak nyaman dengan pertanyaan itu. “Akeh sing rung mok erohi, luweh apik gak roh ae” (Banyak yg tidak kamu ketahui, lebih baik tidak tahu saja)

Suasana menjadi hening sesaat, mbah Tamin mengambil sebuah kotak, mengambil sejumput daun kering dari dalam kotak itu, memelintirnya dengan kertas, sebelum menyesapnya kuat-kuat, asap mengepul dari mulutnya.

“Sak iki, tak uruki tugas’e njenengan kabeh yo” (sekarang waktunya saya memberitahu tugas kalian di sini).