Kisah Lengkap Sewu Dino yang Disebut Lebih Seram dari KKN di Desa Penari
Matanya terpejam, dikurung oleh bambu kuning yg di bentuk menyerupai keranda mayat, Sri dan yg lain, yakin, ada sebuah rahasia di tempat ini, namun apa itu?
Saat-saat kebingungan itu, Sri melangkah mundur, ia tidak sanggup lagi melihat gadis itu yg entah siapa dan kenapa ada disini, ia berniat mencari tahu, dan bertanya langsung kepada sopir yg mengantar mereka, sampai, langkahnya terhenti menakala, ia mendengar si sopir berbicara.
“Gik, opo gak onok sing jelasno nang cah iku mau, kerjo opo nang kene, kok koyok’ane kaget ngunu” (Gik, apa gak ada yg ngasih tau mereka, pekerjaan apa yg sebenarnya di janjikan disini, kok tampaknya mereka terkejut sekali).
Si sopir mulai bicara. “dereng mbah, ngapunten” (belum mbah, maaf).
“awakmu langsung balik tah, gak mene a?” (loh, kamu mau langsung pulang tah, apa gak besok saja) tanya si mbah
“Mboten mbah, mbenjeng kulo kudu ngantar ibuk” (tidak mbah, besok saya harus mengantar ibu)
“Yo wes, ati-ati, ojok langsung muleh, wedine onok iku” (ya sudah, hati hati, takutnya ada itu).
“Iku” batin Sri. Apa maksud kalimat itu, apa yg mengikuti sebenarnya, dan ada apa semua ini, banyak pertanyaan muncul dalam kepala Sri, sebelum, si mbah tiba-tiba bicara.
“Metuo ndok, aku roh awakmu nang kunu” (keluar saja nak, saya tau kamu ada disitu).
Sri melangkah keluar, melihat cahaya mobil mulai menjauh, pudar, lalu menghilang.
“Celuk’en kancamu, ben ngerti, alasan kenek opo sedoyo onok nang kene” (panggil temanmu, biar mengerti, kenapa kalian ada disini). Sri pun memanggil yg lain.
