Setelah jauh masuk ke dalam hutan, mobil berhenti di sebuah semak dan pohon yg tidak lagi bisa di lalui mobil, ada kejadian aneh, dimana ada satu pohon yg tidak terlalu besar, tumbang begitu saja

Si sopir keluar dari mobil, menyingkirkan pohon tumbang itu, dan dari sana ada jalan.

Setelah melewati jalan yg naik turun, mereka sampai di sebuah rumah gubuk, terbuat dari kayu yg di susun serampangan, atapnya tidak terlalu tinggi, terlihat sangat kumuh, bahkan lebih kumuh dari rumah Sri. Dari sana, muncul seorang pria tua, yg seperti sudah menunggu mereka semua.

Sri dan yg lain turun, kemudian si sopir menjabat tangan si pria tua, mencium tangannya, sebelum memperkenalkan Sri dan 2 orang lainnya.

“Mulai tekan kene, bapak iki sing jelasno kabeh” (mulai dari sini, si bapak yg akan menjelaskan semua).

Tampak dari luar, bapak itu sudah uzur, bahkan carannya berjalan saja seperti kewalahan menyangga badannya sendiri.

Ia tidak bicara banyak, hanya memperkenalkan namannya, pak Ageng, katannya, lalu, ia mengajak Sri dan yg lain masuk ke rumah itu, ia menunntunya masuk ke kamar.

Di salah satu kamar itu, Sri dan yg lain, kaget bukan main. Karena tepat di atas ranjang, ada sebuah peti mati, keranda mayat, di dalamnya, ada seorang gadis yg mungkin masih SMU, masih muda. Ia memejamkan matannya, di badannya, ia melihat nanah busuk dan garis lebam hitam, siapa?

“Nami kulo Tamin, kulo ngertos, akeh sing kepingin njenengan2 takokno, enten opo sing kedaden nang kene” (nama saya Tamin, saya mengerti, pasti banyak yg ingin kalian tanyakan tentang apa yg barusaja kalian lihat disini). Si pria tua itu membungkuk, sebelum melangkah keluar kamar

“onok opo asline nang kene” (ada apa sih sebenarnya ini) kata Dini. Ia tidak bisa mengalihkan pandanganya pada gadis itu.