Kisah Lengkap Sewu Dino yang Disebut Lebih Seram dari KKN di Desa Penari
“firasat bapak kok gak apik yo ndok, opo gak usah budal ae, golek maneh ae” (firasat bapak kok buruk ya, apa gak usah aja, cari yg lain).
Namun Sri meyakinkan, bahwa ia harus kerja kapan lagi, ia mendapat pekerjaan dengan gaji setinggi itu. Dalam hati kecil Sri, ia ingin melihat terlebih dahulu, pekerjaan apa yg diberikan kepadanya.
Keesokan harinnya, ia pergi, ke rumah mbah Krasa, disana, ia melihat Erna dan Dini, mereka sama-sama terkejut satu sama lain.
Seperti sebelumnya, mereka dipanggil satu persatu, hingga tiba giliran Sri. Kali ini, ia melihat semua anggota keluarga mbah Krasa.
Ada 7 orang, yg kesemuannya, duduk memandang Sri, sama seperti sebelumnya, mereka seperti mengamati Sri dari ujung kepala, hingga mata kaki.
“Ngeten mbak, kulo bade tandet, sampean purun, nyambut ten mriki, soale, onok pantangan’e, nak sampeyan purun, pantangane ra isok dicabut maneh” (begini mbak, saya mau tanya dulu, anda setuju bekerja disini, karena ada larangan keras bila anda sudah menerimannya, larangannya tidak akan bisa dicabut), kata seorang wanita yg lebih muda. umurnya berkisar sekitar 30’an.
“Larangan nopo nggih mbah” (larangan seperti apa?). Sri bisa melihat gelagat aneh, karena mereka saling memandang satu sama lain, seakan pertanyaan Sri tidak perlu mereka jawab.
Mbah Krasa berdiri dari tempatnya, ia lalu berbisik pada Sri “uripmu bakal dijamin, nek awakmu gelem ndok, tapi nek awakmu gak gelem, mbah gak mekso” (hidupmu akan terjamin bila kamu mau, tapi saya tidak mau memaksa kalau kamu tidak mau). Tidak ada jawaban dari pertanyaan Sri.
Namun, Sri memberi jawaban pada saat itu juga. “Nggih, kulo purun” (iya, saya mau)
Sri pun melangkah pergi, ia menemui Dini dan Erna, rupannya, mereka semua diterima bekerja disini. Disini? adalah pertanyaan yg akan membuat mereka kebingungan, terutama, saat malam mereka tiba.
