Kisah Lengkap Sewu Dino yang Disebut Lebih Seram dari KKN di Desa Penari
Waktu terasa begitu lambat, setiap ketukan detik yg Sri bayangkan terasa mengambang dalam sepi di kamar itu. Lalu, terdengar suara lirih, suara yg membuat Sri merasa tidak sendiri lagi, suara itu, terdengar dari luar kamar.
“Mbaaak Sriii, mbaaak, iki aku Dela” mendengar itu, Sri langsung tercekat, entah apa itu, suara itu seakan mengancamnya
“Mbak sampun tilem, niki aku Dela mbak, dibukak lawange mbak” (Mbaknya sudah tidur, ini aku Dela mbak, dibuka dulu pntunya mbak).
Sri masih diam, ia mencoba menahan diri, suara itu, menganggunya. “Mbak Srii, aku loh eroh nek sampean jek melek, dibukak dilek nggih mbak, engkok, tak keki’i panuturan” (Mbak Sri, saya tau kamu masih terjaga, dibuka dulu pintunya, nanti, saya kasih tahu rahasia)
Kaki Sri, mulai melangkah turun, ia beranjak dari tempatnya, namun, ia masih ragu. Sri belum menjawab, ia masih diam, membiarkanya ditelan sunyi, diobrak-abrik sepi, sampai, keheningan itu menguasai.
Senyap. suasana saat itu sangat senyap, namun, perasaan itu, seakan menekan Sri dalam kegilaan dan rasa penasaran yg saling melahap satu sama lain. Sri gila.
Benar saja, keheningan itu membuat sebagian pikiran Sri tertekan, hingga, Sri merasa, bahwa Dela telah pergi.
Sri mencoba untuk menenangkan diri, ia terduduk dengan kaki yg sudah lemas, namun, tiba-tiba.
“BRAKK!!” pintu kamar Sri, dihantam oleh sesuatu yg sangat keras. Setelah gebrakan itu, suara tertawa yg pernah Sri dengar itu muncul.
“cah GOBLOK, nyowomu iku sampe sepiro seh, tak kandani, jumat kliwon, pikirno iku yo ndok, PIKIRNO OMONGANKU!!” (Anak Bodoh, nyawamu itu sampe mana sih, tak kasih tahu, jumat kliwon, pikirkan itu, PIKIRKAN!!).
Sri hanya meringkuk, ia tidak mau menjawab siapapun itu, lalu, “Sri, nek kate tilem, liline di pateni yo” (Sri, kalau sudah mau tidur, lilinya, dimatikan dulu ya)
Saat itu juga, lilin itu mati dengan sendirinya. kegelapan itu, menenggelamkan Sri dalam tangisan ketakutan tergila.
“Dela yo marani awakmu mambengi” (Dela juga datangin kamu semalam) tanya dini. Ia tengah sibuk membasuh baju disumur belakang, Sri yg baru tiba, hanya mengangguk, lalu duduk di sampingnya.
“Nek wes bengi, Dela kumat, jare mbah, ngunu” (kalau malam tiba, Dela kumat kata si mbah).
“Si mbah sing ndudui awakmu” (si mbah yg kasih tau kamu)
“iyo” “awakmu gak didudui ngunu” (emangnya kamu gak dikasih tau).
Sri tidak menjawab pertanyaan itu, ia hanya melihat air mengalir, yg ada di hadapanya. “Jumat kliwon” kata Sri tiba-tiba, Dini Mengangguk. Rupanya, ia tahu.
Siang itu, si mbah memanggil Sri dan Dini, mereka melihat Dela yg tengah duduk sendirian, ia seperti sibuk dengan dunianya sendiri.
“Dela lahir nang kene, mangkane, gak tak perlakokno koyo nang alas kui, nang kene, wes tak pasang payung penduso nang ben sudut omah” (Dela lahir diisni, makanya, saya tidak perlakukan dia seperti saat tinggal di hutan, setiap sudut rumah ini sudah saya pasang payung untuk orang meninggal, jadi, jangan khawatir”
mbah Tamin, menyesap rokok, menghembuskanya perlahan, “masalahe sak iki nang kene” (masalahnya, sekarang disini).
“Mene, kamis legi, aku arep jalok tolong nang awakmu, Dini, tolong, golekono, nang ndi Pepetane disingitno, isok” (Besok, kamis legi, saya mau minta tolong, bisa kamu caritahu dimana jimat itu disimpan).
