Kisah Lengkap Sewu Dino yang Disebut Lebih Seram dari KKN di Desa Penari
Kaget, takut, dan merinding, itu yg Sri rasakan, cepat-cepat ia mengembalikan semuanya, menutup laci itu lagi. Kemudian melangkah keluar, saat Sri membuka pintu, ia tersentak, melihat Erna dan Dini menatapnya kaget.
“Lapo koen” (ngapain kamu). Sri terdiam, ia berusaha tetap diam.
“Gak popo, aku di kongkon si mbah, mberseni kamare mambengi” (semalam, si mbah nyuruh saya bersiin kamarnya)
Meski curiga, Erna dan Dini menerima alasan Sri. Ia melewatinya begitu saja, namun, perasaan Sri pagi itu, sudah porak poranda dengan pemikiran-pemikiran gilanya.
Sejak hari itu, setiap kali berpapasan dengan si mbah, Sri seperti terguncang. Ia tidak bisa menutupi ketakutanya, namun, dari cara melihat si mbah, tampaknya beliau tau sesuatu dan itu, membuat Sri tidak tenang.
Ia seringkali merasa, mbah Tamin memperhatikan gerak geriknya.
Tapi malam itu, Sugik, sopir yg mengantar mereka datang, ia berbicara empat mata dengan mbah Tamin, seakan ada sesuatu yg mendesak, wajah mbah Tamin tampak mengeras.
Sri begitu penasaran, namun kali ini, ia menahan diri. Sampai akhirnya, pembicaraan itu selesai, si mbah mendekat.
“Aku bakal melok Sugik nang kediamane Krasa, tolong, jogo omah iki, iling omonganku, yo ndok, mbah percoyo ambek awkmu, tetep lakonono tugasmu, iling yo, paling emben si mbah kaet muleh” (saya akan pergi sama Sugik ke kediaman Krasa, tolong jaga tempat ini, ingat ucapanku). (lusa mungkin saya baru pulang).
Sri mengangguk, lalu memanggil yg lainya, mereka semua menatap satu sama lain, ada keraguan di mata mereka bila mengingat kejadian sebelumnya, namun, tidak ada yg memprotes ucapan si mbah, karena takut, beliau akan marah lagi seperti sebelumnya.
