“Sedo bengi mangkuk nang rogo iku ngunu undangan gawe lelembut” (raga yang dibuat mati adalah sebuah undangan bagi makhluk seperti mereka) kata mbah Tamin.

“Awakmu lali, perintahku Sri, iku ngunu bahaya, isok mateni Dela, ojok sampe lali maneh yo Sri” (kamu lupa dengan perintahku, itu sangat berbahaya, bisa membunuh Dela, jangan ulangi ya).

Erna yg sedari tadi diam saja ikut berbicara. “mbah, enten nopo sami Dela, kok isok Dela kate mateni kulo kaleh Sri” (Mbah tolong kasih tahu, apa yg terjadi sama Dela, kok bisa bisanya, dia mau bunuh saya dan Sri).

Mbah Tamin duduk lagi, lalu mengatakan “berarti wes ndelok” (berarti kamu sudah lihat).

“Iku ngunu Cayajati, sing kepingin mateni Dela, tapi ra isok, mergane cayajati butuh singgarahane, koyok sak bojo, Santet sewu dino, mek dinduwei ambek wong pados sing wes podo siap mati” (itu adalah Cayajati, yang ingin membunuh Dela, tapi tidak bisa karena ia butuh Singgarahane, seperti sepasang suami isteri, santet seribu hari, hanya di miliki oleh orang yang siap menanggung dosa, dan siap mati bersama).

Sri dan Erna masih terlihat bingung, ia tidak mengerti.

Mbah Tamin menerawang jauh, menatap sisi hutan tergelap yang Sri saksikan dengan mata kepala sendiri, mereka tidak sendirian di hutan ini. Dengan suara berat, mbah Tamin mengatakanya.

“Terlalu awam, kango ngerti iki” (terlalu awal untuk mengerti ini).

“intine, ilmu santet sewu dino, iku pembuka ritual, kanggo mateni sak keluarga sampe sekabehe keturunan iku entek” (intinya, ilmu santet seribu hari, adalah pembuka ritual, untuk menghabisi satu garis keluarga sampai habis keseluruhanya).

Setelah percakapan itu, mbah Tamin melangkah masuk ke dalam kamar, mengunci pintunya, membiarkan semua kejadian itu, meluap, begitu saja.