Kisah Lengkap Sewu Dino yang Disebut Lebih Seram dari KKN di Desa Penari
Sri dan Erna sampai beringsut mundur, sosok didalam kain itu terus meraung layaknya iblis yg Sri saksikan tadi, kali ini, Dini tampak terguncang, bingung, ada apa sebenarnya disini.
Terdengar suara marah dari dalam kain. Ia adalah wujud tadi yg Sri saksikan, “Menungso bejat” (manusia berengsek).
Mbah Tamin terus menekan kepalanya, membuat suara itu semakin menjerit marah, setelah kurang lebih 5 menit mbah Tamin melakukan itu, perlahan, sosok itu mulai tertidur, dan mbah Tamin membuka kain itu, ia melihat Dela memejamkan matanya.
“Sri, Erna, melok aku” (kalian ikut saya) kata mbah Tamin memanggil mereka. Sementara Dini, tetap di kamar, hanya dia yg belum mengerti apa yg terjadi di sini.
Mbah Tamin duduk di teras rumah, kegelapan hutan, benar-benar mencekam kala itu. Sri dan Erna berdiri, menunggu, sebelum mbah Tamin menunjuk sesuatu di antara pepohonan. “Awakmu isok ndelok ikuh” (kalian bisa melihatnya).
“nopo to mbah” (apa ya mbah) kata Sri, bingung.
“Mrene” (kesini).
mbah Tamin, menempelkan jemarinya, menekan mata Sri, sengatan ketika mbah Tamin menekan mata Sri, membuat pengelihatanya memudar perlahan, setelan mencoba memfokuskan matanya, Sri melihat lagi apa yg ditunjuk mbah Tamin.
Bagai petir di siang bolong, Sri melihat, banyak sekali makhluk yg tidak bisa dia gambarkan kengerianya. Mungkin ada ratusan, atau ribuan, seakan mengepung rumah.
Butuh waktu lama, sampai Sri akhirnya tidak sanggup lagi melihatnya, sehingga mbah Tamin menutup kembali pengelihatan itu, mencabut sesuatu dari ubun-ubun Sri. Dengan mata menerawang, ia mengatakan kepada Sri.
