PALU – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) berada di posisi ketiga terendah secara nasional pada Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 3,15 persen. Di atas Sulteng D. I Yogyakarta sebesar 3,14 persen dan yang pertama Provinsi Bali sebesar 1,52 persen.
“Secara nasional, tertinggi TPT Provinsi Banten sebesar 8,11 persen, terendah Provinsi Bali 1,52 persen. Sulteng berada di posisi tiga terendah, sebesar 3,15 persen,” ujar Kepala Bidang Statistik Sosial, Badan Pusat Statistik (BPS) Sulteng, Moh. Wahyu Yulianto, saat memberikan keterangan pers, di Kantor BPS Sulteng, Selasa (05/11).
Dia mengatakan, dari TPT Provinsi Sulteng sebesar 46,8 ribu orang atau 3.15 persen, penyumbang TPT terendah berdasarkan angkatan perjenjang pendidikan Agustus 2019 adalah, Diploma sebesar 15.15 perse. Sementara penyumbang TPT tertinggi sebesar 1,07 persen, yakni jenjang pendidikan SMA.
“SD ke Bawah 0,65 persen atau 9,7 ribu orang. Sekolah Menengah Pertama (SMP) 0,41 persen atau 6,0 ribu orang. Sekolah Menengah Atas (SMA) 1,07 persen atau 15,9 ribu orang. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 0,55 persen atau 8,2 ribu orang. Diploma I/II/III sebesar 0,15 persen atau 2.2 ribu orang, dan Universitas sebesar 0,32 persen atau 4,8 ribu orang,” rincinya.
Ditambahkannya, satu tahun terakhir, empat sektor terbesar mengalami peningkatan persentase penduduk bekerja sebesar 1,11 persen, yaitu perdagangan besar dan eceran, reparasi dan perawatan mobil serta sepeda motor.
“Jumlah pengangguran di Sulteng sebanyak 46,80 ribu. Angka itu mengalami penururunan sekitar 4,68 ribu orang dari tahun sebelumnya,” tambahnya.
Di kesempatan yang sama, Kepala BPS Provinsi Sulteng, Faisal Anwar menilai, tenaga kerja yang bekerja di pertanian turun dan bertambahnya industri itu bagus.
“Jadi kalau dipertanian itu cenderung pekerja yang tidak dibayar, dia bekerja tapi pemasukan tidak. Tapi sebenarnya peralihan pekerja pertanian itu menurun bukan karena pertanian lainnya naik, tapi semata-mata persoalannya adalah lahan pertaniannya yang menurun,” katanya.
Dia berharap tingginya semangat lari ke non pertanian, yang dari sisi finansial didapatkan lebih besar. Meski demikian, sekotr pertanian sebagai kor ekonomi di Sulteng tetap harus ditingkatkan.
“Kalau dilihat sektor pertanian sejak tahun 2015 ekonomi Sulteng pertanian itu sampai 30 persen, tapi sekarang dari yoy itu tinggal 24 sampai 26 persen, turun tapi turunnya memang bukan karena pertaniannya turun tapi kecepaatan untuk pertumbuhannya dipertambangan luar biasa tingginya. Jadi ini tantangan untuk Sulteng, pertanian harus tetap digenjot tetapi jangan juga hanya menghandalkan pada perkonomian SDA yang sulit untuk diperbaharui,” tandasnya. (YAMIN)

