JAKARTA – Tingkat elektabilitas Joko Widodo-Maruf Amin yang terus tergerus disebabkan dua masalah utama. Yakni terkait kinerja Jokowi di pemerintahan, dan pencitraan yang tidak layak lagi dijual.
Pengamat politik, Bin Firman Tresnadi menjelaskan, terkait kinerja pada masa pemerintahannya, tidak sedikit masyarakat yang menganggap Jokowi telah gagal dalam membuat kebijakan-kebijakan atas persoalan ekonomi dan hukum.
“Salah satunya kriminalisasi terhadap para pengkritiknya. Infrastruktur yang menjadi andalan dalam pembangunan Jokowi dianggap rakyat tak juga mendorong bangkitnya ekonomi, yang ada justru rakyat semakin terpinggirkan,” katanya dia kepada redaksi, Kamis (21/3).
Adapun pencitraan atau gimmick politik yang selama ini menjadi andalan Jokowi, kini sudah tidak laku lagi.
Seperti diketahui, Rabu (20/3/2019), Litbang Kompas merilis hasi survei Pilpres 2019 terbaru. Hasilnya, elektabilitas paslon 01 Jokowi-Maruf dan paslon 02 Prabowo-Sandi tidak terpaut jauh. Yaitu 49,2 persen dan 37,4 persen.
Secara spasial elektabilitas pasangan kandidat presiden dan wakil presiden nomor urut 02 Prabowo-Sandi mampu mengungguli pasangan Jokowi-Ma’ruf di Sumatera. Namun, di lima wilayah lainnya pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 Jokowi-Ma’ruf unggul.
Elektabilitas pasangan Prabowo-Sandi di Sumatera pada Maret 2019 mencapai 50,5% sementara pesaingnya, pasangan Jokowi-Ma’ruf hanya 37%, sisanya 12,5% belum menentukan pilihan. Sementara di lima pulau lainnya seperti di Jawa, Kalimantan serta Maluku dan Papua pasangan Jokowi-Ma’ruf tetap memimpin. Survei Kompas di lakukan pada akhir Februari hingga awal April 2019 dengan melibatkan 2.000 responden yang tersebar di 34 provinsi. Adapun margin of error sebesar +/-2,2% dengan tingkat kepercayaan 95%. (Pojoksatu/Katadata)



