
DONGGALA – Pemerintah Kabupaten Donggala dinilai tidak tanggap dalam menyelesaikan persoalan pendidikan pasca gempa bumi beberapa waktu lalu. Khususnya di wilayah Pantai Barat.
Hal ini diungkapkan Yaumil Masri, salah satu penggiat Pendidikan di Kabupaten Donggala saat berkunjung di Sirenja, Selasa (11/12/2018).
Ia mengungkapkan, meskipun Kondisi proses pendidikan di Wilayah Sirenja, Balaesang dan Balaesang Tanjung pasca gempa itu sudah mulai pulih,
Namun masih banyak pelajar yang belum mendapat fasilitas yang baik disebabkan sekolah mereka hancur.
Yaumil Masri contohkan, di Wilayah Tompe ada dua Sekolah Dasar (SD) yang tidak layak huni lagi. Belum lagi kondisi air laut yang meluap setiap pagi dan sore. Kondisi ini tentu membuat para pelajar tidak kondusif belajar.
“Proses belajar mengajar di sekolah untuk wilayah donggala tetap berjalan, namun yang disayangkan adalah para pelajar yang belum mendapatkan fasilitas yang memadai,” ujarnya.
Menurut pantauan Yaumil Masri, khususnya di Desa Lende, sekolah-sekolah yang rusak di desa tersebut hingga kini belum terpantau oleh pemerintah daerah.
“Menurut saya upaya dari pemerintah ataupun dinas terkait untuk menangani persoalan ini, saya kurang tau. Cuman yang saya tau Pemda Donggala itu semacam susah untuk turun langsung kelapangan melihat kondisi yang memang terjadi. Contohnya juga di desa lende, disana banyak sekolah yang rusak,” ungkapnya.
Belum lagi di Labuana, kata Yaumil Masri juga masih banyak ia temukan sekolah yang hancur. “Kemarin saya di sirenja sudah drop bantuan 1000 lebih pakaian sekolah disana,” terangnya.
Yaumil berharap, Pemerintah Daerah Kabupaten Donggala atau pun dinas terkait agar cepat menyelesaikan persoalan pendidikan di wilayahnya khususnya bagian Pantai Barat. (YP)




