Skrol untuk membaca pos

TPM Sulteng Ajak Perangi Berita HOAX

Muh. Rifai
Andi Akbar
A-AA+A++

PALU- Maraknya berita hoax yang tersebar di media sosial, telah mengusik ketenangan serta keberagaman berbagai elemen masyarakat. Tak terkecuali salah satu advokat muda yang tergabung dalam Tim Pengacara Muslim (TPM) Sulteng.

Menurut Andi Akbar, SH dewasa ini banyak oknum yang memang sengaja memanfaatkan hoax sebagai senjata perang apalagi saat ini di tahun politik.

Hal ini di karenakan media sosial yang berkembang begitu cepat, sehingga telah mendorong distribusi informasi ke seluruh masyarakat tanpa filter yang cukup. Akibarbya, sangat sulit bagi orang awam untuk mengidentifikasi informasi yang valid dan benar.

Untuk memerangi berita hoax, kata Akbar, dibutuhkan komitmen seluruh elemen agar menganggap hoax ini menjadi musuh bersama.

“Setelah itu bagaimana kita melakukan pemahaman kepada adik-adik di sekolah bahwa tidak semua berita yang mereka baca di media sosial (Medsos) itu benar adanya. Dan saya berharap kegiatan sosialisasi ini bukan hanya ajang ceremony our declaration belaka,” ujar Andi Kabar, Senin (3/12).

Akbar yang juga advokat muda ini menceritakan, penyebaran hoax saat ini sudah hampir tak terbendung lagi.
Terlebih banyak situs-situs yang dengan mudahnya menyebarkan berita, namun disisi lain, para pembaca pada umumnya tak menyaring terlebih dahulu berita yang dibagikan.

Salah satu faktor penyebanya, karena minat baca masyarakat yang masih kurang. Olehnya itu, sebagai pemuda, kata dia, hendaknya harus menjadi ikon pembeda di tengah masyarakat.

“Kehadiran pemuda hendaknya mampu sedikit meminimalisir penyebaran hoax.Kebiasaan buruk dari masyarakat ketika melihat berita, yang hanya melihat dari judulnya saja, padahal tidak jarang judul berita dan isi dari berita itu tidak berbanding lurus,” jelasnya.

Andi Akbar berkeyakinan, jika komitmen tersebut dibangun dengan serius, nantinya bakal berdampak pada mengurangnya korban hoax, karena masyarakat semakin dewasa dalam melihat sebuah pemberitaan.

Masyarakat menjadi tahu dan mampu mengidentifikasi dari mana sumber berita itu, sebelum mereka baca dan bagikan ke publik. (Agus Manggona).