Skrol untuk membaca pos

Gempa Sulteng, Tujuh Desa Belum Tersentuh Bantuan

Muh. Rifai
Harjon (tengah) salah satu warga desa kamonji saat memberikan keterangan di kantor AJI Palu, Jumat, 5/10/2018. Foto: MAL/Ikram
A-AA+A++

PALU, Infopena.com – Paska tujuh hari gempa menerpa Palu, sebanyak tujuh desa yakni desa Malei, Kamonji, Ketong, Manimbaya, Rano, Pomolu, Palau, Kecamatan Balaesang Tanjung, Kabupaten Donggala belum tersentuh bantuan logistik.

“Sampai hari keenam kemarin tinggalkan kampung belum tersentuh bantuan ,” kata Harjon (39) salahsatu warga desa Kamonji saat memberikan keterangan di sekretariat AJI Palu, ” jumat, (5/10) malam sekitar pukul 21.30 Wita.

Harjon mengatakan, kedatanganya ke Palu saat ini, selain mencari keluarga, juga ingin menginformasikan ada sekitar tujuh desa terisolir dan ribuan masyarakat belum tersentuh bantuan logistik, karena akses jalan masuk sulit.

Dia mengatakan, untuk mencapai Palu jaraknya 125 killometer dari desanya saja dirinya berangkat dengan mengenderai kenderaan motor sekitar pukul, 08.00 Wita dan sampai di Palu sekitar pukul 16.00 Wita. Biasanya jalan ditempuh hanya tiga jam saja, tapi akibat gempa waktu tempuhnya cukup lama.

Itupun kata dia, bensin yang digunakan diambil dari kompresor, karena sulitnya akses jalan turut terdampak gempa bahan bakar digunakan meningkat.

Sementara kata dia , ada bahan bakar dijual tapi harganya Rp 35 ribu perliter, itupun tidak cukup kalau dijual maupun dipakai.

Jadi bantuan yang paling penting itu kata dia, bahan bakar minyak dan beras . Karena masyarakat kebanyakan hanya mengkonsumsi ubi dan pisang, kalaupun ada nasi hanya sebagian dan terbatas.

“Kalau bisa diupayakan secepatnya bantuan dengan menggunakan Heli atau apa saja bisa aksesnya cepat sampai , sebab persedian bahan makanan sudah menipis,” katanya.

Bahkan kata dia, akibat kurangnya pasokan sembako ada sudah warga meninggal diperkirakan karena kelaparan. Hal ini diketahui dari cerita salahsatu warga tetangga desa turut mengungsi didesanya.

Dia menambahkan, karena warga yang meninggal tersebut pada saat itu turun mencari makanan ke desa, tapi yang berdagang juga turut mengungsi.

“Pernah ada bantuan dari Tolitoli, tapi diperjalanan dijarah oleh warga juga membutuhkan,” imbuhnya. (IKM)