EKONESIA Mendesak Gubernur Sulteng Terpilih Evaluasi Target Penurunan Emisi Sulawesi Tengah

Bagikan Artikel Ini

PALU – Yayasan Ekologi Nusantara Lestari (EKONESIA) mendesak Gubernur Sulawesi Tengah terpilih untuk saatnya mengubah prilaku pembangunan yang sebelumnya konsumtif karbon, menjadi pembangunan minus karbon.

Direktur EKONESIA yang juga Anggota Dewan Nasional WALHI, Azmi Sirajuddin, menyatakan dukungannya kepada para pihak yang selama ini telah berupaya  untuk kembali ke prilaku pembangunan minus karbon.

“Kita tidak boleh lagi bicara pengurangan emisi berbasis sektoral, misalnya pengurangan emisi sektor hutan dan lahan, tapi semua sektor kehidupan manusia saat ini sudah harus minus karbon”. Ujarnya dalam rangka peringatan Hari Bumi 22 April 2021.

Ia juga mengatakan, Salah satu tantangan global menurut ilmuan adalah kenaikan suhu bumi. Berbagai ilmuan telah memperkirakan secara ilmiah suhu bumi akan meningkat dari 1,5 – 3 derajat Celcius pada tahun 2050. Jika tidak ada perubahan prilaku manusia terhadap alam, maka diperkirakan suhu bumi akan sangat panas sekali dan meningkat antara 4 – 8 derajat Celcius pada tahun 20100. Kondisi suhu bumi yang tidak akan sesuai lagi dengan kemampuan bertahan hidup manusia dan mahluk hidup lainnya.

“Di tingkat lokal Sulawesi Tengah, tantangannya juga semakin besar. Beraktivitasnya sejumlah operasi pertambangan dan perkebunan monokultur skala besar akan berkontribusi terhadap konsumsi dan pelepasan karbon yang besar pula.  Sebab dari banyak praktik pertambangan dan perkebunan monokultur besar, fakta yang kita jumpai di lapangan  hutan mengalami deforestasi dan degradasi karena terdampak dari aktivitas ekstraktif itu”. Terangnya

Krisis ekologi akibat aktivitas pembangunan yang bertumpu pada industri ekstraktif, akan terus berlanjut jika tak ada kesadaran hari ini untuk menghentikannya.

Dengan meminjam teori pembangunan berkelanjutan, EKONESIA menegaskan bahwa perputaran ekonomi pun pada akhirnya akan terhenti bila pada saatnya krisis ekologi ekstrim di bumi mencapai puncaknya. “Apapun alasan pertumbuhan ekonominya, berbagai kebijakan politik dan teknologi canggih yang diproduksi selama ini tidak akan mampu lagi membendung krisis ekologi ekstrim jika tidak dimulai perubahan hari ini”, ujar Azmi.

BACA JUGA  Bencana Ekologis di Sigi Butuh Pendekatan Luar Biasa

Mantan Koordinator Pantau REDD Sulawesi Tengah itu juga membeberkan bahwa target penurunan emisi di bawah 2 derajat pada tahun 2030 tidak akan tercapai secara global, jika kontinuitas industri ekstraktif terus berjalan di berbagai pelosok dunia.

“Target global penurunan emisi sangat ambisius menuju batas waktu 2030, tapi upaya yang dilakukan menuju ke sana justru tidak ambisius tapi melempem”. Ungkapnya

Bahkan Azmi mengingatkan kita kembali tentang target ambisius Pemprov Sulteng, yang pernah menargetkan penurunan 3% emisi dari rata-rata emisi nasional. Apakah target domestik di Sulawesi Tengah itu dapat diwujudkan? Hal itu juga yang masih diragukan oleh EKONESIA.

“Kami berharap Gubernur Sulteng yang baru nantinya mengevaluasi target pengurangan emisi Sulawesi Tengah, sebab terlalu ambisius tapi langkah-langkah ke pencapaian target itu justru tidak tampak ambisius dan tidak luar biasa”, tambah Azmi.


Mengutip nilai spiritual kebumian komunitas adat di Sulawesi Tengah, yang meyakini bahwa “bumi adalah ibu”, maka esensi menjaga bumi dari kerusakan sama dengan menjaga dan merawat ibu kita sendiri. (YP)

loading...

Bagikan Artikel Ini

Komentar

Masih Hangat