Skrol untuk membaca pos

Ful Asmara Gen Z 569: Victoria Bongkar Luka Masa Lalu, Zara Bertemu Danuel

Muh. Rifai
Foto: Tangkapan Layar SCTV
A-AA+A++

Di hadapan teman-temannya, Victoria akhirnya mengungkap ketakutan yang selama ini ia simpan sendiri.

Ia mengaku sangat membutuhkan beasiswa karena takut tidak bisa melanjutkan pendidikan jika gagal mendapatkannya. Tidak ada orang yang bisa menjamin masa depannya. Tidak ada tempat untuk bergantung ketika keadaan menjadi sulit.

Pengakuan itu membuat suasana mendadak berubah.

Victoria kemudian membuka luka yang selama ini jarang ia ceritakan kepada orang lain. Ia mengungkap bahwa dirinya sudah lama merasa berjuang sendirian. Setelah masalah yang pernah terjadi di sekolah, kedua orang tuanya tidak lagi hadir seperti yang ia harapkan. Sejak saat itu, ia merasa harus bertahan dengan kemampuannya sendiri.

Namun curahan hati Victoria justru memicu luapan emosi dari siswa lain.

Mereka merasa Victoria terlalu mudah menganggap dirinya yang paling menderita. Salah satu teman kemudian membalas dengan menceritakan kondisi keluarganya sendiri. Meski kedua orang tuanya masih lengkap, rumah yang ia tinggali justru dipenuhi pertengkaran, bentakan, dan tekanan hampir setiap hari.

Satu per satu, luka yang selama ini dipendam mulai muncul ke permukaan.

Untuk pertama kalinya, para siswa menyadari bahwa masing-masing dari mereka ternyata sedang berjuang menghadapi masalah yang berbeda-beda. Ada yang kehilangan sosok orang tua, ada yang hidup dalam tekanan keluarga, dan ada pula yang harus berjuang demi masa depan tanpa dukungan yang cukup.

Saat suasana semakin panas, tutor yang mendampingi mereka akhirnya menghentikan perdebatan tersebut.

Dengan tenang ia mengingatkan bahwa luka bukanlah sebuah perlombaan.

Menurutnya, setiap orang memiliki beban hidup masing-masing dan tidak ada gunanya membandingkan siapa yang paling menderita. Menangis, marah, atau merasa lelah adalah hal yang wajar. Namun saling menyakiti hanya akan menambah luka baru.

Nasihat tersebut membuat seluruh siswa terdiam.

Mereka mulai menyadari bahwa selama ini terlalu sibuk mempertahankan rasa sakit masing-masing hingga lupa bahwa orang lain juga sedang berjuang.

Momen itu menjadi salah satu adegan paling menyentuh dalam episode ini karena memperlihatkan sisi manusiawi para penghuni Asrama 9 Ilmu yang selama ini terlihat kuat di depan orang lain.