Agenda kedua adalah percepatan digitalisasi pemerintahan. Gubernur Anwar Hafid menargetkan seluruh sistem pemerintahan dan pelayanan publik di lingkup Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah sudah berbasis digital dalam waktu tiga bulan ke depan.
“Tidak boleh lagi manual. Pelayanan ke masyarakat harus digital. Kalau perlu, masyarakat tidak perlu bertemu kita, semua urusan bisa selesai secara digital,” tegasnya. Ia menilai digitalisasi sebagai kebutuhan mendesak untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, dan kecepatan pelayanan publik.
Gubernur juga mengingatkan, target digitalisasi tersebut harus dicapai bersama-sama. Ia menyatakan akan bersikap tegas apabila target yang telah ditetapkan tidak terlaksana, sekaligus meminta seluruh jajaran untuk saling mendukung dan bekerja secara aktif.
Agenda ketiga adalah penerapan merit system berbasis prestasi. Gubernur menegaskan komitmennya untuk menerapkan sistem penilaian kinerja yang objektif dan adil, dengan menempatkan prestasi dan kinerja sebagai ukuran utama dalam pengembangan karier aparatur sipil negara.
“Saya butuh orang yang bekerja, bukan orang yang pandai bermanuver. Tidak perlu pendekatan ke mana-mana, yang saya butuhkan adalah inovasi dan prestasi,” katanya.
Ia memastikan, setiap pejabat memiliki peluang yang sama selama mampu menunjukkan kinerja dan kontribusi nyata.
Lebih lanjut, Gubernur secara terbuka mendorong seluruh pejabat, mulai dari kepala bidang, kepala seksi, hingga pejabat fungsional, untuk melahirkan inovasi di unit kerja masing-masing. Ia menyebut inovasi sebagai kunci untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan daerah.
Ia bahkan menjanjikan dukungan anggaran serta promosi jabatan bagi pejabat yang mampu menghadirkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat. “Kalau inovasinya masuk akal dan bermanfaat, saya siapkan anggarannya dan saya promosikan dalam tiga bulan. Ini janji saya,” tegasnya di hadapan ratusan pejabat yang dilantik.
Di akhir sambutannya, Gubernur Anwar Hafid mengingatkan, kunci utama menjadi pejabat adalah loyalitas. Loyalitas tersebut, menurutnya, tidak hanya kepada pimpinan, tetapi juga kepada tugas, tanggung jawab, dan nilai-nilai ketuhanan.
“Jabatan itu ada rumusnya. Kalau bukan kita yang meninggalkannya, jabatan itu yang akan meninggalkan kita. Maka jalani dengan tulus, jujur, dan ikhlas,” pesannya.









