Skrol untuk membaca pos

Kisah Pak Teguh, Satpam UGM yang Berhasil Kuliahkan Putrinya Hingga Gelar Doktor

Muh. Rifai
Retnaningtyas Susanti sedang foto bersama kedua orang tuanya. Foto; Istimewa
A-AA+A++

Benar saja, berkat dukungan penuh orang tua, Tyas mampu menyelesaikan jenjang S1-nya dalam waktu 3,7 tahun. Sebelum akhirnya bekerja sebagai peneliti di Pusat Studi Kebijakan dan Kependudukan (PSKK) UGM.

Seiring berjalannya waktu, kecintaannya terhadap penelitian yang ia tekuni menumbuhkan impian di dalam dirinya untuk berprofesi sebagai dosen. Dua tahun setelah ia lulus dengan gelar Sarjana, ia memutuskan untuk melanjutkan studi S2, dengan membiayai sendiri kuliahnya.

Berbagai pekerjaan sampingan pernah ia lakoni demi mencari penghasilan tambahan, mulai dari bekerja di warung kopi, hingga berjualan.

“Saya masih ingat dulu sering berjualan salak di depan sini,” kata Tyas sembari menunjuk salah satu sudut di sisi selatan UGM.

Kerja kerasnya berbuah manis. Pada 2011, ia berhasil menyandang gelar master di bidang pariwisata, gelar yang membuka jalan baginya untuk memulai profesi dosen di Universitas Andalas Padang. Pada tahun 2013, ia pun kembali lagi ke Jogja untuk studi S3 dengan beasiswa BPPDN Dikti.

Teguh, melihat Tyas diwisuda ketiga kalinya, tak ada lagi yang diharapkannya dari sang putri. Namun bagi Tyas, keberhasilannya meraih gelar Doktor justru menambah satu impian untuk orang tuanya, “Saya ingin bapak dan ibu melihat saya dikukuhkan sebagai guru besar suatu hari kelak,” harapnya. Source: Rilisid
[related-content]