“Olehnya itu, kita pilih Anwar Hafid dan Reny Lamadjido, pada 27 November 2024 nanti,” ajaknya.
Sebelumnya, Ketua Panitia Kegiatan Lomba Perahu Layar Tradisional BERANI RACE, Syukur Lembah dalam sambutannya mengatakan, Lomba Perahu Layar Tradisional itu merupakan kegiatan yang telah dilakukan secara turun temurun dari nenek moyang mereka.
“Kegiatan ini merupakan budaya nenek moyang kami dan tiap tahun akan dilaksanakan,” ungkapnya.
“Sebenarnya, lomba ini akan kami laksanakan di tahun 2019 kemarin. Tetapi karena bapak Anwar tidak mendapatkan perahu untuk berlayar, maka kami menghentikan kegiatan ini,” tambahnya.
Syukur Lembah juga menjelaskan, dampak dari tsunami menjadi salah satu alasan mengapa lomba ini belum dilaksanakan.
“Alasan kedua, itu karena tsunami makanya kami belum menggelar kembali lomba perahu layar tradisional. Tetapi dengan adanya “Perahu” bapak Anwar Harid dan Ibu Reny, kita langsung melaksanakan kegiatan ini dan didukung penuh Pasangan BERANI,” jelasnya.
Syukur Lembah juga menjelaskan, akibat dampak tsunami dan waktu yang mepet, sehingga peserta yang mendaftar hanya sebanyak 37 peserta.
“Adapun jumlah peserta yang ikut berpartisipasi yaitu sebanyak 37 orang, ini karena waktu yang mepet dan juga dampak dari tsunami,” jelasnya.
Sementara, Farhan Rahman, selaku koordinator kegiatan lomba, menjelaskan bahwa perlombaan ini sebagai bentuk dukungan terhadap komunitas lokal yang cinta dengan budaya dan tradisi perahu tradisional.
“Tentunya terima kasih kepada Bapak Anwar dan Ibu Reny, karena kegiatan ini merupakan bentuk dukungannya mereka terhadap kelestarian masyarakat yaitu lomba perahu tradisional”, terang Rahman selaku koordinator panitia kegiatan lomba.
Farhan kemudian menjelaskan bahwa kegiatan lomba ini berlangsung dan dibagi dalam dua seri yakni seri A dan Seri B.
Seri A sendiri dimulai dari Desa Lero dan berakhir di Pantai Bamba, Kelurahan Panau, dengan jarak tempuh sekitar 30 km. Sebanyak 20 peserta turut berpartisipasi dalam seri ini. Sementara itu, Seri B dimulai dari Desa Pangga, Kabupaten Donggala, dan berakhir di Pantai Bamba dengan jarak trek sejauh 17 km, diikuti oleh 17 peserta.







