Skrol untuk membaca pos

IPPML Dorong Pilkada Tanpa Hoax

Muh. Rifai
Foto bersama para narasumber usai menggelar dialog interaktif di MS Radio, Rabu (21/3/2018). Foto: Ist
A-AA+A++

PALU, Infopena.com – Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Lambunu (IPPML) mendorong penyelenggaraan pemilihan kepala daerah (Pilkada) di beberapa daerah di Sulawesi Tengah tahun 2018  bebas hoax atau berita bohong, ujaran kebencian dan politisasi  suku, agama, ras, dan antargolongan (Sara).

Hal itu disampaikan Ketua IPPML, Yahya Perianto saat menggelar dialog interaktif bertajuk pilkada damai di MS Radio, Palu Grand Mall, Rabu (21/3/2018).

Yahya menyampaikan, pilkada tahun ini sangat rentang dengan hoax, ujaran kebencian serta isu sara. Hal ini ditandai dengan kebaradaan media sosial yang saat ini banyak digunakan masyarakat.

“Pengguna media sosial sangat banyak. Tentu ini berpotensi tingginya penyebaran berita bohong, ujaran kebencian dan politisasi sara melalui media soaial. Jika tidak segera dibendung, maka ini sangat berbahaya,” katanya kepada Infopena.com, Rabu (21/3/2018).

Selain itu, dialog interaktif ini mengundang beberapa pembicara, diantaranya Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sulteng Ruslan Husain, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu Munif Godal dam Jurnalis senior Adha Nadjamudin.

Sebagai Ketua Bawaslu Sulteng, Ruslan Husain menuturkan untuk menangkal adanya hoax hingga politisasi sara, peserta pilkada harus saling beradu visi misi untuk menarik simpati pemilih. Sehingga, penyebarannya dapat diminimalisir

“Masyarakat harus jeli dan teliti menyaring informasi atau berita yang diterima. Sehingga, penyebaran berita bohong dapat dicegah,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris MUI Kota Palu, Munif Godal sangat menentang keras politik sara. Bahkan, menghimbau kepada untuk menggunakan hak pilihnya berdasarkan hati nurani.

“Dalam memilih, yang terpenting masyarakat memilih pemimpin yang komitmen menjaga NKRI,” ucapnya.

Selain itu, dari sisi jurnalis, Adha menuturkan peranan media memainkan penting dalam menangkal adanya berita bohong, ujaran kebencian hingga politisasi sara.

“Masyarakat belum memahami betul tentang hoax atau berita bohong. Maka dari itu, media punya peranan penting dalam memberikan edukasi melalui pemberitaan berdasarkan fakta dan data akurat,” tuturnya. Ard