JAKARTA – Dalam melancarkan aksinya, Reynhard Sinaga disebut menggunakan obat bius yang membuat korbannya tidak sadarkan diri. Belakangan obat tersebut diketahui bernama Gamma hydroxybutyrate (GHB). Obat ini awalnya diproduksi untuk tujuan medis, namun belakangan juga dilarang di sejumlah negara di Eropa.
“GHB ini dikenal sebagai rape drug di klub malam mengincar seseorang untuk menawarkan minuman yang dicampur GHB ini,” ungkap Dokter Adiksi, dari Institute of Mental Health Addiction and Neuroscience (IMAN) Jakarta, dr Hari Nugroho, M.Sc, seperti dilansir dari VIVA.
Hari juga menyebut GHB sebagai liquid ecstasy karena bentuknya yang cair. Hal itu yang membuat GHB kerap digunakan untuk perbuatan jahat karena sifatnya yang cair, cenderung tidak memiliki rasa, dan mudah untuk dicampurkan ke dalam minuman. Ini pula yang membuat banyak korbannya tidak sadar telah dibius.
“Kalau digunakan untuk kejahatan atau pemerkosaan memang kecenderungannya dicampur untuk menyamarkan kalau tidak dicampur GHB ini bisa bikin semacam rasa terbakar,” kata Hari.
Mengutip Suara.com dilansir dari BBC, apabila seseorang mengonsumsi satu tetes ekstra GHB, 20 menit kemudian orang tersebut dapat tidak sadarkan diri.
Parahnya, menurut WebMD, obat ini dapat menghapus ingatan penggunanya. Semua ini berkat peningkatan aktivitas neurotransmitter yang dikenal sebagai gamma-aminobutyric acid (GABA).
GABA ini betugas untuk membawa pesan dari satu sel ke sel lainnya. Meningkatnya jumlah aktivitas GABA justru akan aktivitas otak dapat berkurang. Gejalanya seperti kantuk, relaksasi, amnesia, tidur, koma dan bahkan kematian.
Berdasarkan Very Well Mind, pengguna melaporkan efek positif termasuk euforia, peningkatan gairah seks, dan ketenangan.
Tidak hanya alkohol, GHB umum dicampurkan dengan obat-obatan lain seperti metamfetamin, MDMA, dan ketamin. Kombinasi ini dapat meningkatkan efeknya tetapi juga berpotensi mematikan.
Efek GHB biasanya dimulai dalam waktu sekitar 15 hingga 30 menit dan hanya dengan sedikit obat. Efek akan memuncak pada 20 hingga 60 menit setelah mengonsumsinya.
Seperti diketahui, Banyak pihak khususnya warga Indonesia digemparkan dengan kasus pemerkosaan yang dilakukan Reynhard Sinaga.
Hakim bahkan menyebutnya sebagai predator seksual setan. Kasus pemerkosaan Reynhard juga disebut sebagai kasus pemerkosaan terbanyak sepanjang sejarah Inggris, bahkan dunia. Atas perbuatannya, Reynard dihukum penjara seumur hidup dengan hukuman minimal 30 tahun di Penjara Manchester.
Reynhard terbukti melakukan 159 pelanggaran, termasuk 136 pemerkosaan yang direkam melalui dua ponselnya. Polisi Inggris mengatakan, masih ada 70 korban lainnya yang belum diidentifikasi dan diinvestigasi, bahkan diperkirakan pria berusia 36 tahun itu telah melakukan pelecehan seksual terhadap 195 orang dalam dua setengah tahun terakhir.
Kejahatan itu terhenti pada 2 Juni 2017, saat seorang korban terakhirnya, terbangun saat sedang dilecehkan dan menelepon panggilan darurat, setelah sempat melindungi dirinya sendiri dengan memukul pelaku.
Korban yang merupakan remaja berusia 18 tahun itu menelepon 999, dan ambulans segera tiba di Montana House, apartemen tempat Reynhard tinggal selama lima tahun terakhir. Dari sana, pelaku sempat dibawa ke rumah sakit terlebih dahulu untuk menjalani perawatan karena diduga mengalami pendarahan otak.
Remaja yang menjadi korban ditangkap karena sempat dicurigai, hingga detektif dari Kepolisian Greater Manchester segera menyadari bahwa mereka telah menahan orang yang salah. Reynhard kemudian diinterogasi dan dari sana polisi melihat tingkah aneh, salah satunya selalu memberikan pin yang salah, menghalangi penyelidik membuka ponsel miliknya.
Raynhard menolak memberi pin yang benar. Namun, saat polisi berhasil membuka ponselnya, mereka menemukan begitu banyak video yang memperlihatkan pemerkosaan serangkaian pemuda yang tampaknya sedang tertidur. Sementara itu, di satu ponsel lainnya, terdapat lebih banyak lagi rekaman serupa.
Analisis yang dilakukan mengidentifikasi ada lebih dari 195 korban berbeda dan seluruhnya berada dalam kondisi tidak sadar saat Reynhard melecehkan mereka. Penyelidik mengatakan tidak menemukan salah satu obat yang diyakini telah digunakan untuk membius korban hingga tertidur lelap dan tidak sadar telah menjadi korban kejahatan.
Jaksa mengatakan, pria-pria yang menjadi korban Raynhard diberi obat bius seperti asam gamma-hydroxybutyric yang umumnya dikenal sebagai GHB atau sesuatu dengan efek yang sangat mirip. Terkadang ini juga dikenal sebagai ekstasi cair, yang menyebabkan ingkat sedasi, ketidaksadaran, dan ketidakmampuan seperti terlihat dalam video korban dilecehkan, mereka benar-benar tidak bergerak sekalipun mendengar suara keras seperti ponsel yang berdering.
Banyak di antara korban yang ingat bahwa mereka diberikan minuman, beberapa ingat dijanjikan untuk pergi ke pesta serta lainnya hanya ditawarkan untuk menginap karena kelelahan.
Ada satu korban Reynhard, pria berusia 21 tahun yang diperkosa sebanyak empat kali pada dini hari 21 Mei 2017. Di pengadilan ia mengatakan, ada yang aneh dengan minuman yang diberikan padanya.
“Itu tampak seperti air, tetapi seperti ada suatu butiran, hampir seperti garam. Itu tidak bening seperti air. Saya sempat bertanya apakah ini dan ia (Reynhard) mengatakan ini air, kamu perlu minum air,” ujar pria berusia 21 tahun itu, dikutip Republika dari Guardian.
Korban kemudian mengatakan, tidak ingat apapun hingga bangun di pagi hari di apartemen Reynhard. Saat itu, ia hanya berpikir mengalami mabuk yang sangat parah. Ia kemudian bertanya apa yang terjadi dan Reynhard mengatakan telah menyelamatkan saat dirinya pingsan di trotoar sebelah klub malam, Factory.
“Saat itu saya berkata terima kasih telah memberiku tumpangan. Itu masuk akal karena saya sepertinya benar-benar mabuk,” kata pria 21 tahun itu.
Dalam sebuah grup percakapan di aplikasi chat Whatsapp, Reynhard membanggakan apa yang disebut sebagai ‘penaklukan seksual’. Ia kemudian juga mengatakan ada ramuan rahasia yang membuat para pria akan jatuh cinta kepadanya. Saat itu, ia baru memerkosa pria yang sedang kesulitan karena kehilangan kartu bank dan baterai ponselnya habis.
Reynhard mengatakan, menggunakan black magic atau sihir hitam untuk menaklukkan pria tersebut dan membuatnya dicintai dalam sekejap. Ramuan itu sangat efektif hingga hanya korban terakhir yang mengetahui bahwa ia telah dilecehkan. Bahkan, para korban lainnya baru mengetahui telah menjadi korban saat polisi memanggil dan menanyakan kesaksian mereka. Beberapa di antaranya mengingat Reynhard sebagai seseorang yang baik, bagaikan seorang samaritan yang memberikan mereka tumpangan dan tempat saat kehilangan sesuatu atau berada dalam kondisi yang sulit.
Bahkan, para korban yang tak sadar berterima kasih kepada Reynhard karena telah merawat mereka. Beberapa di antaranya bahkan kemudian setuju untuk melanjutkan pertemanan di jejaring sosial Facebook. Salah satu di antaranya juga merasa beruntung karena dapat membuktikan bahwa menginap di rumah Reynhard kepada kekasihnya, bukan seperti yang dicurigai, yaitu bermalam bersama dengan perempuan lain.
Dengan terungkapnya kejahatan Reynhard, sebanyak 48 korban setuju untuk memberikan kesaksian di Pengadilan Manchester. Terdapat empat persidangan terpisah, yang pertama dimulai pada Mei 2018 dan terakhir selesai sebelum 25 Desember 2019.
Beberapa korban yang sebelumnya tidak terlihat selama di video dalam ponsel Reynhard juga bersedia tampil di persidangan. Media dilarang melaporkan apa pun yang akan merugikan korban.
Selama di persidangan, Reynhard mengaku gay dan dianggap seperti waria oleh para korban. Bahkan, ia mengatakan 48 pria yang menjadi korbannya itu terlebih dahulu mendekati dirinya saat berada di jalan sekitar apartemen dan mengajak untuk dekat dan melakukan ‘permainan’ yang membuat mereka berpura-pura tidur saat ia melakukan aksi kejahatan itu.
Reynhard mengatakan, para korban itu berbohong selama memberikan kesaksian di pengadilan. Ia mengatakan hal itu karena tidak mudah bagi mereka mengakui diri sebagai seorang gay dan telah terjadi homofobia secara luas.
Meski demikian, hakim Suzanne Goddard QC menolak pembelaan Reynhard. Fakta yang terungkap adalah ia terlihat berhati-hati sebelum melakukan kejahatannya, seperti dengan memeriksa apakah korban benar-benar sudah terlelap dan tidak sadar, sebelum memerkosa mereka.
Dikutip dari Tagar.id, pria bernama asli Reynhard Tambos Tua Sinaga itu lahir di Jambi, pada tanggal 19 Februari 1983. Anak sulung dari tiga bersaudara ini terlahir dari pasangan Saibun Sinaga dan Normawati Silaen. Ayahnya, Saibun Sinaga diketahui sebagai pengusaha properti dan seorang bankir.
Pria berusia 36 tahun ini merupakan lulusan S1 teknik sipil di Universitas Indonesia (UI), Depok pada tahun 2006. Setelah menyelesaikan studi strata satunya, di tahun 2007 Reynhard menempuh pendidikan S2 jurusan sosiologi di Manchester University.
Kemudian, dia melanjutkan kuliah S3 untuk gelar PhD jurusan studi Human Geography di Leeds University pada tahun 2012, tapi tidak tamat. Dia mengajukan tesis berjudul “Sexuality and everyday transnationalism among South Asian gay and bisexual men in Manchester” pada Agustus 2016, tetapi tidak lulus dan dia diberi waktu tambahan untuk revisi. [***]

