PALU – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palu, melakukan uji coba membunyikan sirene, Ina-Tews, di Taman Gor Palu, Kamis (26/09).
Uji coba ini dilakukan setiap tanggal 26 bulan berjalan pukul 10.00 Wita, guna memastikan alat tersebut berfungsi baik dan normal.
Kepala Seksi Pencegahan Bencana, BPBD Kota Palu, Gayus Novanto Pakan, mengatakan, aktivasi sirene ini dilakukan setiap tanggal 26 bulan berjalan di semua daerah yang memiliki Ina-Tews.
Menurutnya, dipilihnya tanggal 26, sesuai protokoler Ina-Tews dari BMKG karena melihat adanya kejadian tsunami Aceh, Desember 2004.
“Khusus Kota Palu dibunyikan pukul 10.00 Wita, ” katanya.
Ia menguraikan prosedur penekan tombol sirene yang dibunyikan selama 1 menit. Kata dia, jarak dengar sirene saat dilakukan ujicoba adalah sekitar radius 3 kilometer, tetapi ketika tsunami benar terjadi, maka bisa melebihi dari jangkauan ujicoba.
Ia mengatakan, ketika ada potensi tsunami, maka 5 menit awal milik BMKG pusat, setelah lewat barulah pihaknya melakukan eksekusi atas perintah kepala daerah.
“Kami tidak berani menekan tombol tanpa perintah kepala daerah,” katanya.
Dia menambahkan, dari 46 wilayah di Indonesia, yang memiliki Ina Tews hanya dua daerah saja yang dihibahkan ke pemerintah daerah masing-masing, yakni Sumatera Barat dan Bali, mengingat biaya pemeliharaannya.
Sementara Kepala Stasiun Geofisika Klas 1 Palu, Cahyo Nugroho, mengatakan, dibunyikan setiap tanggal 26 guna memastikan bahwa alat tersebut berfungsi dengan baik. Ketika ada permasalahan saat uji coba, kata dia, maka bisa langsung ditanggulangi secepatnya.
Ia mengatakan, salah satu pembelajaran ke depan saat listrik mati, maka harus ada penambahan UPS sebagai back up peralatan.
“Meski mati lampu, otomatis tetap menyala,” ujarnya.
Diketahui, sistem panggilan dini tsunami ini telah diluncurkan sejak November 2008.
Ina-TEWS memiliki dua sistem pemantauan, yakni sistem koneksi darat yang terdiri dari jaringan seismometer broadband dan GPS.
Sistem pemantauan kedua adalah pemantauan laut yang terdiri atas pelampung, pengukur pasang surut, dan CCTV.
Pada prinsipnya, pelampung berfungsi untuk memindahkan muka laut di lepas. Sementara air pasang mengukur untuk memindahkan air laut di pantai. CCTV digunakan untuk membahas tsunami di pantai.
Dengan menggunakan perangkat Sistem Pendukung Keputusan (DSS), Ina-TEWS kemudian mengolah informasi yang diperoleh dari sistem registrasi darat dan laut tersebut untuk menentukan apakah ada risiko tsunami setelah gempa. Setelah data tersebut disetujui oleh petugas, maka diterbitkan dini tsunami pun dapat dikeluarkan. (MAL)

