PARIMO– Praktik ‘mafia’ menghisap bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi untuk dijual ke industri, ditenggarai terjadi di SPBU Desa Lambunu Kecamatan Lambunu dan SPBU Moutong, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng).
Parahnya aktivitas para ‘drakula’ penghisap solar bersubsidi ini diduga kuat dibekingi oknum aparat dan preman.
Hal tersebut dikemukakan Presidum Gerakan Rakyat Untuk Daerah (Garuda) Sulteng, Nizar Dg Rahmatu, S.Sos, yang melihat langsung adanya aktifitas tersebut di SPBU Desa Lambunu. Di mana ia menemukan beberapa mobil truk dan dump truk yang digunakan untuk mengangkut solar.
Bahkan parahnya, mobil-mobil truk tersebut memiliki empat buah tangki, sehingga proses pengisian BBM ini memakan waktu satu sampai dua jam.
Menurut Nizar, kondisi ini sangat meresahkan masyarakat, karena sebagian warga utamanya yang hendak melakukan perjalanan jauh dengan terpaksa mengurungkan niat, karena tidak kebagian stok solar. Persediaan solar di SPBU hampir seluruhnya dipasok kepada truk dan dump truk, yang telah didesain sedemikian rupa, agar dapat menampung solar dalam jumlah besar.
Aktivitas ini bisa berlangsung mulus dan lancar, karena diduga ada kerja sama antara oknum aparat kepolisian dan preman desa setempat.“Saya lihat sendiri ada salah satu pengendara tujuan Palu-Manado sampai menangis, karena tidak kebagian solar. Padahal dia sudah antri berjam-jam akibat lamanya pengisian solar di salah satu truk yang tengah mengisi solar,” tuturnya seperti dilansir dari jurnalsulawesi.com Sabtu (8/12).
Anehnya lagi kata Nizar, pengisian BBM jenis solar di salah satu truk tersebut tidak melalui tangki sebagaimana mestinya. Tapi Nosel SPBU dimasukkan di antara body truk.“Selain itu petugas SPBU juga masih harus melayani pengisian solar melalui jerigen,” imbuh Nizar.
Berdasarkan pengakuan salah satu karyawan SPBU Lambunu kata Nizar, , mereka tidak bisa berbuat apa-apa, karena sering mendapat intimidasi dari preman. Aparat kepolisian di Polsek Lambunu juga tidak berani menghalau atau menertibkan praktik ‘mafia’ tersebut.“Jadi separah ini kondisi yang terjadi di SPBU Lambunu,” cetusnya.
Sebagai salah satu tokoh pemuda Parigi Moutong tandas Nizar, pihaknya mendesak kepada jajaran Polda Sulteng untuk segera menghentikan aktivitas di SPBU Lambunu dan Moutong. Sebab aparat di Polsek Lambunu terkesan “banci” karena tidak bisa mengamankan aktivitas mafia solar di dua SPBU ini.“Tutup SPBU Lambunu dan Moutong,” pintanya.
Ditegaskan Nizar, aktivitas seperti ini tidak tertutup kemungkinan terjadi pula di SPBU-SPBU lain dengan cara sembunyi-sembunyi, namun di SPBU Lambunu dan Moutong dilakukan secara terang-terangan.“Jika aktivitas seperti ini tidak segera dihentikan, maka jangan salahkan jika masyarakat mengambil tindakan sendiri-sendiri,” tegasnya.
Nizar juga mendesak kepada Polda Sulteng, Polres Parimo serta pemerintah daerah untuk segera mengeluarkan surat tegas kepada SPBU-SPBU agar membatasi pembelian solar bagi setiap kendaraan, agar seluruh pemilik mobil bisa kebagian.
Sumber: jurnalsulawesi.com

