JAKARTA – Para keluarga korban Lion Air PK-LQP menyampaikan keluhannya lantaran keluarganya belum bisa ditemukan hingga hari ini.
Selama sekurangnya 7 hari menunggu kepastian, akhirnya keluarga korban blak-blakan mengenai apa yang mereka keluhkan dalam konferensi pers bersama Basarnas, TNI, Kementerian Perhubungan, KNKT, DVI Polri dan Jasa Raharja.
Sesi keluhan itu dilangsungkan di Ibis Jakarta, Cawang, Jakarta Timur, Senin (5/11/2018).
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi membuka sesi tersebut.
Satu perwakilan keluarga korban, Saepi, AN 001 menyampaikan apresiasinya kepada tim yang mengevakuasi korban dan badan pesawat Lion Air PK-LQP.
Namun apresiasinya itu tak ditujukan pada tim DVI Polri.
“Kecuali DVI Polri, kami belum ucapkan terima kasih, karena jasad keluarga kami belum ditemukan,” ungkap Saepi seperti dikutip kanal YouTube Kompas TV, Senin (5/11/2018).
Ia juga menyesalkan, peristiwa jatuhnya pesawat Lion Air tak terjadi sekali ini saja.
Saepi menilai, hal tersebut menjadi cerminan bahwa sensitivitas dari pihak regulator, dalam hal ini Menteri Perhubungan, masih kurang.
“Kejadian Lion Air sudah berkali-kali tanpa ada sensitivitas dari pihak regulator.”
“Kami nggak bisa menjamah Lion pak, kami mengeluh. Regulator lah yang bisa menindak,” tukasnya.
Ia menambahkan, keluarga korban kerap mandiri mulai dari mencari informasi hingga turut mencari ke tengah laut.
“(Keluarga) korban mandiri pak. Harus berhari-hari menunggu di depan ruang jenazah.”
“Bahkan ada yang ke tengah laut membiayai sendiri untuk mencari ayahnya,” jelas Saepi.
Lebih lanjut, Saepi menilai penyelam yang mendapatkan black box akan diberi penghargaan.
Saepi menyayangkan sebab harusnya yang diberikan penghargaan adalah penyelam yang bisa mengumpulkan jasad terbanyak.
“Besok-besok kalau ada kejadian ini yang diberi penghargaan itu bukan penemu black box, Pak. Tapi siapa penyelam yang paling banyak mengambil jenazah. Itu diberikan kenaikan pangkat.”
“Rahasia umum pak, penyelam kemudian berlomba-lomba mencari black box.”
“Bahkan ketika dia muncul dan datang, ‘saya menemukan black box’. Keluarga kami begitu tersayat pak,” ujarnya diakhiri dengan suara parau.
Saepi menambahkan, baiknya penyelam mengutamakan untuk mengambil jasad terlebih dahulu.
“Apalagi ketika menemukan black box dia melihat bongkahan-bongkahan mayat. Lo ngapain bro, yang lo ambil black box doang?” tanya Saepi.
Sepekan setelah peristiwa naas itu terjadi, Tim DVI telah berhasil mengidentifikasi 14 orang penumpang, meraka ialah :
1. Jannatun Cintya Dewi (24)
2. Candra Kirana (29)
3. Monyy (41)
4. Hizkia Jorry Saroinsong (23)
5. Endang Sri Bagus Nita (20)
6. Wahyu Susilo (31)
7. Fauzan Azima (25)
8. Rohmanir Pandi Sagala (23)
9. Dodi Junaidi (40)
10. Muhamad Nasir (39)
11. Janry Efryanto Sianturi (26)
12. Karmin (68)
13. Harwinoko (54)
14. Verian Utama (31)
Sumber: TRIBUNJAKARTA.COM

