Mengutip bpbd.sumbarprov.go.id, potensi ancaman terbesar lindu di daerah ini bersumber dari Mentawai megathrust. Megathrust Mentawai ini di daerah subduksi pertemuan antara lempeng tektonik India-Australia dengan lempeng Eurasia. Ancaman lainnya bersumber dari Mentawai Fault System (MFS) dan Sumatera Fault System (SFS) atau lebih populer dengan istilah sesar Sumatera.
Sesar Sumatera ini yang disebut-sebut penyebab lindu yang terjadi pada Jumat pekan lalu itu. Lalu apa itu sesar Sumatera?
Sesar Sumatera ini berada di darat. Ia membentang dari provinsi Lampung sampai ke Aceh sepanjang ±1900 km. Sejumlah kabupaten di Sumatera Barat dilewati sesar ini. Seperti Solok Selatan, Solok, Tanah Datar, Kota Padang Panjang, Kota Bukit Tinggi dan Pasaman.
Sesar Sumatera terjadi akibat adanya lempeng India-Australia yang menabrak bagian barat pulau Sumatera secara miring. Akibatnya, terjadi tekanan dari pergerakan ini. Tekanan membentuk sesar Sumatera atau disebut juga ”The Great Sumatera Fault”.
Sesar ini membelah pulau Sumatera. Ia membentang mulai dari Lampung sampai Aceh dan nyambung hingga ke Laut Andaman hingga Burma. Patahan ini merupakan daerah rawan gempabumi dan tanah longsor.
Sesar Sumatera merupakan sesar strike slip berarah dekstral yang terdiri dari 20 segmen utama sepanjang tulang punggung Sumatera.
Jalur patahan Sumatera bisa dikenal dari penampakan bentang alam di sepanjang jalur. Bukit–bukit dan danau-danau yang ada di daerah itu menjadi penanda pernah terjadinya pergeseran itu.






