Skrol untuk membaca pos

Meninggal Dunia, Indra Bruggman Cerita Sosok Sang Ibu

Muh. Rifai
Foto: Instagram Indra Bruggman
A-AA+A++

PALUIbu Indra Bruggman meninggal dunia Jumat, 18 September 2020 siang sekitar pukul 12.15 WIB dalam perjalanan menuju rumah sakit. Sebelum meninggal, kesehatan ibunya menurun setelah sempat terjatuh.

“Kemarin Ibu sempat jatuh, jatuhnya nggak terlalu tinggi, tapi abis itu badannya jadi nggak enak. Beliau di rumah aja sembari diinfus karena saya ajak ke rumah sakit nggak mau. Saya bujuk terus akhirnya mau ke pengobatan tradisional. Setelah dibawa ke sana agak mendingan, cuma besokannya balik sakit. Akhirnya saya bujuk lagi ke rumah sakit dan beliau mau. Pas saya bawa ke rumah sakit, di perjalanan meninggal,” kata Indra seperti mengutip Kapanlagi.

Melalui akun instagramnya, Indra pun menceritakan sosok dari sang ibu. Berikut kutipannya!

Selama masa hidupmu, tak pernah meminta sesuatu dari kami, Anak2nya.

Tak pernah mengharap apapun, kecuali, kami menjadi anak yang baik, yang selalu menyayangi satu sama lain dan selalu berusaha menjalankan ibadah dgn baik

Sosok seorang istri yang sempurna. Bahkan almarhum pernah berkata semasa hidupnya, kalau beliau lah surga nya.

Seorang ibu yang luar biasa menyayangi anak2nya yang selalu berusaha menjadi pendukung no.1

Yang selalu peduli dengan orang2 di kampung halaman nya. Yang selalu menekankan penting nya silaturahmi.

Selalu ku ingat bagaimana raut wajah bahagia mu bila mempunyai kesempatan untuk pulang kampung menemui teman dan sodara disana.

Bahkan disaat terakhir pun, kau tak mau merepotkan kami yang sesungguhnya tak akan pernah merasa kau repotkan

Karena engkau adalah ladang pahala kami. Surga kami.

Terimakasih karena engkau sudah mengajarkanku tentang banyak hal, tentang sebuah keiklasan, pengorbanan, pengabdian, dan kasih sayang yang tulus.

ALLAH sudah mengabulkan permintaan terakhirmu
Sekarang kau telah pergi ketempat yang lebih indah.

Selamat jalan oma sayang
InsyaAllah kita akan berkumpul lagi nanti disana
Amanahmu akan kami jalankan.

Dari aku, anakmu yang sudah merindukan senyum mu, nyanyian konyolmu, dan masakan mu.

i lop u soooooooo very very much… Al-Fatihah.

Meninggal di hari Jumat

Seperti diketahui, bagi umat islam hari jumat merupakan suatu keistimewaan tersendiri. Bukan hanya bagi mereka yang hidup, tapi juga untuk mereka yang sudah meninggal. Sebagaimana dijelaskan Syekh Imam Nawawi Al-Bantani dalam kitabnya yang berjudul Tanqih al-Qaul, Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Siapa saja yang meninggal di hari Jumat atau malamnya, maka dihapuskan siksa kubur dari dirinya”.

Dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam al-Ghazali juga menyebutkan Nabi Muhammad bersabda, “Siapa saja yang meninggal pada hari Jumat, maka Allah SWT menulis pahala syahid untuknya dan dijaga dari malapetaka kubur.”

Dalam kitabnya ini Syekh Nawawi Al-Bantani tidak menjelaskan perawi hadits tersebut. Beliau juga tidak mengungkapkan status keshahihan kedua hadits tersebut. Namun, dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi dijelaskan,

“Tidak ada seorang Muslim pun yang meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat kecuali Allah SWT akan menjaganya dari fitnah kubur.” (HR. Ahmad no. 6582 dan At-Tirmidzi no. 1074).

Hadits tersebut diriwayatkan al-Tirmidzi dari Rabi’ah bin Yusuf dari Ibnu Amr bin al-Ash. Menurut al-Tirmidzi, hadits ini tergolong gharib, tidak bersambung sanadnya, tidak pernah diketahui Rabi’ah mendengar dari Ibnu Amr. Namun al-Thabrani menyatakan hadits tersebut muttashil (tersambung sanadnya).

Ada beberapa riwayat senada mengenai keutamaan wafat di hari Jumat. Misalnya riwayat Humaid dari Iyas bin Bukair yang menyatakan, “Barangsiapa mati di hari Jumat, ia dicatat mendapat pahala syahid dan aman dari siksa kubut.” Namun, menurut Syekh Muhammad Anwar Syah al-Kasymiri, hadits-hadits tersebut tidak sampai kepada derajat hadits Shahih. [***]