PALU – Lembaga Pengawasan Ombudsman RI Perwakilan Sulawesi Tengah (Sulteng) meminta Pemprov/Pemkab agar meningkatkan kewaspadaan di Bandara se Sulteng untuk mengantiipasi penyebaran virus Corona.
“Adanya dugaan suspect terhadap turis dari Ampana bisa menjadi bahan daerah untuk meningkatkan kewaspadaan, perlu rapat koordinasi digelar dan dibuatkan kebijakan kewaspadaan atas bahaya virus Corona ini,” kata Kepala Perwakilan (KPw) ORI Sulteng, H.sofyan farid Lembah Jumat (28/2).
Dia mengatakan, selama dua pekan keliling di beberapa kegiatan di Kabupaten Banggai, Tojo Una-una, Parigi Mautong dan Tolitoli, terkesan telah dikurangi kewaspadaan terhadap mobilitas penduduk lewat bandara.
“Hanya di Banggai ada sistem scan terhadap penumpang yang datang ke kota Luwuk, saat meninggalkan kota lewat bandara tak ada pemeriksaan, begitupun terhadap beberapa warga negara asing (WNA) menjadi penumpang,” ujarnya.
Ia menyebutkan, untuk bandara Poso dan Tolitoli tak ada pemeriksaan baik di kedatangan maupun saat meninggalkan kota. “Terkesan longgar pengawasan, ” katanya.
Seorang warga negara asing (WNA) asal Francis harus dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ampana, karena diduga terinfeksi virus corona, Jumat (28/2) sore. Suhu tubuhnya meningkat hingga 37 derajat celcius.
WNA berinisial C (71) itu dijemput dari lokasi wisata Kepulauan Togean, Kabupaten Tojo Una-Una, Provinsi Sulawesi Tengah.
Dilansir kabarselebes.id, Kepala Rumah Sakit Umum Ampana dr Niko membantah adanya isu yang menyebut WNA asal Perancis itu terpapar virus corona. Setelah diperiksa di RSU Ampana kata Niko, pasien itu tidak ada gejala virus Corona. Pasien itu hanya diare dan dehidrasi yang menyebabkan demam.
“Setelah kami periksa dia hanya diare demam yang disebabkan oleh dehidrasi. Jadi tidak benar pasien itu terpapar corona,” kata Niko.
Menurut Niko, pasien itu memiliki riwayat berpergian dari Thailand 6 Januari hingga 3 Februari 2020, Malaysia 4 Februari sampai dengan 11 Februari 2020. Dia masuk Indonesia melalui Jakarta pada tanggal 12 Februari ke Makassar. Pernah dirawat di Makassar karena sakit perut. Dia jalan darat mampir di Toraja, Poso lalu Touna.
“Jadi tidak ada riwayat bepergian ke China atau wilayah yang terpapar covid. Hasil lab dan rontgen tidak menunjukkan suspect COVID 19. Tapi kami tetap akan melakukan observasi selama 14 hari di RSUD Luwuk,” tandas Niko. [Red]

