DONGGALA, Infopena.com – Tamarenja merupakan desa yang terletak di kawasan pantai barat, tepatnya di kecamatan Sindue Tobata, Kabupaten Donggala. Desa ini terletak sekitar ratusan meter di atas permukaan laut dan dikelilingi pegunungan yang hijau dan asri.
Tamarenja dikenal dengan desa berbuah. Salah satu buah unggulan yang menjadi ciri khas dari desa ini adalah buah Salak. Sebagian besar penduduk di desa itu beraktivitas sebagai petani salak dan menjadi sumber penghasilan utama mereka.
Salak sendiri mempunyai tekstur yang lembut dan renyah, dengan rasa asam manis. Inilah yang menjadikan buah salak semakin digemari.
Mukhlis, salah satu warga desa Tamarenja kepada Infopena.com Senin, (25/12/2017) mengatakan, bahwa perkebunan salak di Tamarenja sudah ada sejak puluhan tahun silam. Ia mengaku telah beraktivitas sebagai petani salak sejak 25 tahun terakhir.
“Untuk satuan harga salak dijual 80 ribu sampai 100 ribu per karungnya. Dan salak ini bukan hanya dijual di Sulawesi Tengah, tapi juga dijual di berbagai daerah seperti Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara dan daerah-daerah lainnya,” ujar Mukhlis.
Beliau tak khawatir jika buah salak yang dipanen akan membusuk bila lambat dipasok ke luar daerah, karena buah salak dapat bertahan hingga seminggu. “Untuk ketahanan salak itu sendiri dapat bertahan empat hari sampai seminggu, tergantung dari kematangan dari buah salak itu sendiri,” katanya.
Ia menambahkan, seiring makin dikenalnya komoditas salak Tamarenja, permintaan buah salak saat ini makin melonjak, Harganya pun mencapai Rp 120 ribu perkarung dan kemungkinan akan terus naik hingga akhir tahun, tutur pria berusia 45 tahun itu.
Tidak hanya dijual dalam bentuk buah, sejumlah masyarakat Tamarenja, termasuk ibu-ibu, juga mengolah buah salak menjadi dodol.
“Bukan hanya buahnya saja yang dijual, kami beserta para petani lainnya ikut membuat olahan dalam bentuk dodol salak. Dodol ini tidak kalah enaknya dibandingkan dodol-dodol rasa lain,” tutupnya. Sri Wahyuni







