PALU – Pengurus Koordinasi Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) SULTENG mengadakan Bakti Sosial sekaligus tausyiah antar agama di Desa Jono Oge Kabupaten Sigi, kegitan tersebut diikuti oleh masyarakat desa jono oge. Kamis (31/01/2019)
Kegiatan Baksos ini bertujuan untuk menjalin sekaligus mempererat tali silaturahim antar masyarakat desa jono oge khususnya antar umat beragama.
Kegiatan baksos ini membersihkan rumah ibadah yang ada di desa jono oge, seperti masjid dan gereja. Mereka berkolaborasi dengan pemuda dan mahasiswa kristiani desa jono oge. Seluruh kader – kader PMII dilibatkan dan bersama – sama masyarakat, pemuda dan mahasiswa kristiani.
Usai kegiatan baksos dilaksanakan, kegiatan tausyiah dilanjutkan dikantor desa jono oge. Kegiatan tausyiah ini diisi oleh Pak Mesak Rapiau sebagai Ketua Oukumene (MAJELIS) geraja bala keselamatan korbs 2 jono oge dan ustad Najib selaku tokoh agama di desa jono oge.
Pak Mesak Rapiau sebagai Ketua Oukumene (MAJELIS) geraja bala keselamatan korbs 2 jono oge mengatakan “Saat ini pasca bencana gempa, likuifaksi dan tsunami yang melanda kota palu, sigi dan donggala pada tanggal 28 september 2018 tahun kemarin, membawa dampak yang cukup besar bagi masyarakat kota palu dan sekitarnya.
Bencana tersebut sangat mempengaruhi kehidupan sosial bermasyarakat khususnya masyarakat diwilayah Kab. Sigi. Dalam kehidupan bermasyarakatnya, warga wilayah Kab. Sigi saat ini tidak lagi seperti dahulu sebelum terjadi bencana.
Pada umumnya sebagian besar warga sigi berperilaku berlebihan (emosian dan marah) untuk hal” yang kurang jelas. Marah tanpa sebab inilah yang membuat warga wilayah sigi terkesan sensitif sehingga sulit untuk dilakukan pendekatan dari pihak” terkait penyaluran bantuan dan lain – lain (dalam hal ini pihak yang berasal dari luar daerah sigi)”,
Selang beberapa hari pasca bencana, terjadilah penjarahan dan pencurian di beberapa wilayah kota palu dan wilayah sigi. Hal inilah yang membuat masyarakat sangat resah dan panik, dikarenakan pihak aparatur negara yang jumlahnya sangat sedikit saat itu.
Saat ini pemerintah telah membangun hunian sementara untuk masyarakat korban bencana. Namun dari sekian hunian sementara yang dibangun, sangat sedikit masyarakat yang memilih tinggal di hunian sementara tersebut. Sebagian besar masyarakat korban bencana memilih untuk tidak tinggal di hunian itu. Alhasil hunian sementara yang dibangun terbilang mubazir karena tidak di tinggali.
Masyarakat menginginkan pembangunan hunian sementara atau hunian tetap dibangun kembali di daerah yang sama mereka tinggali sebelum terjadinya bencana. Namun saat ini HUNTAP/HUNTARA yang disediakan berlokasi terlalu jauh dari tempat pencaharian masyarakat, hal ini yang kemudian mempersulit mereka dalam melakukakan aktifitas kesehariannya.
Selain itu saat ini masyarakat sangat berharap agar pendistribusian bantuan-bantuan berupa bahan pangan dan lain-lain dibagikan dengan merata dan tepat sasaran sesuai kebutuhan masyarakat korban bencana. Hal ini disampaikan masyarakat sebagai satu masukan agar pemerintah dan perangkat desa lebih teliti dan tepat sasaran dalam pendistribusian bantuan – bantuan tersebut.
Saat ini masyarakat wilayah Kab. Sigi tidak lagi hidup berdampingan dan bersosalisasi antar agama. Hal ini dibuktikan dengan terbentuknya kelompok-kelompok masyarakat yang hidup terpisah berdasarkan agama di wilayah masing – masing. Dampak terburuknya adalah kehidupan bersosialisai antar agama tidak lagi berjalan seperti halnya di daerah lain yang hidup dalam kerukunan beragama.
Hal ini yang kemudian membuat para pemuka dari masing – masing agama bertekad untuk mendukung kegiatan-kegiatan yang menyatukan kembali masyarakat antar agama untuk menangkal paham dan gerakan radikalisme untuk mencegah terjadi perpecahan masyarakat antar agama.
Hal ini pula yang diungkapkan oleh seorang ustad pemuka agama di wilayah Kab. Sigi. Beliau mengemukakan bahwa warga desa Jono oge saat ini terkesan lebih sensitif dibuktikan dengan perilaku-perilaku yang kurang baik contoh berebutan bantuan yang kemudian hal inilah yang menjadi pemicu perpecahan dalam bermasyarakat.
Oleh sebab itu solusinya perlu segera mengambil tindakan-tindakan pencegahan agar tidak terjadi perpecahan dalam masyarakat antar umat beragama yang saat ini rentan dengan paham – pahamradikalisme.
Menurut ustad Najib sebagai tokoh agama mengatakan “ESDM yang berkualitas sangat kurang diwilayah Kab. Sigi desa Jono oge, sehingga masyarakat yang seperti itu terkesan berperilaku tidak terbuka dan mengarah kepada sifat arogan. Hal inilah yang membuat pihak-pihak terkait yang bertujuan menyalurkan bantuan di wilayah tersebut mengurungkan niatnya karena resah dan khawatir bersalah paham dengan masyarakat khususnya di desa jono oge”, Jelasnya
Beliau juga menyatakan bahwa memgadakan BAKSOS bersama masyarakat akan memberikan energi positif yang juga baik untuk membangun silaturahmi, karena hal tersebut meskipun sederhana namun dapat membantu masyarakat untuk kembali bersosalisasi serta berkomunikasi satu sama lain dan tentunya hal itu sangat baik untuk dilakukan melihat konsdisi saat ini.
Untuk penyaluran sembako pak ustad menambahkan bahwa ada baiknya isi dari kemasan sembako tersebut sesuai dengan kebutuhan masyarakat tidak perlu dikemas dengan porsi besar karena yang terpenting adalah kebutuhan yang cukup terpenuhi. Beliau juga menambahkan sebaiknya diadakan kegiatan-kegiatan contohnya seperti dialog atau diskusi dengan mengundang wirausahawan sebagai narasumbernya. Hal ini menurut pak ustad lebih bermanfaat dan memberikan efek jangka panjang dibandingkan pemberian sembako.
Pengetahuan kewirausahawan akan lebih baik dan bermanfaat kedepaannya untuk masyarakat sehingga bisa membentuk dan membangun mental masyarakat jono oge, agar bangkit dari keterpurukan ini. Intinya masyarakat membutuhkan pengetahuan untuk bisa berwirausaha ataupun membuat ekonomi kreatif.
Selain itu mushola-mushola yang dibangun di desa Sidera, yang saat ini belum dimanfaatkan perlu mendapat perhatian lebih dari segenap pihak karena saat ini tidak digunakan sehingga menurut beliau sangat mubazir. (YP)

